Pengusaha Logistik Minta Tarif Tol Turun, Begini Kata Luhut

JoSS, JAKARTA – Jalan tol Trans Jawa yang telah tersambung dari Jakarta –Surabaya dinilai masih belum efektif memangkas biaya pengiriman logistik karena tarifnya yang relatif tinggi. Hal itu membuat pengusaha enggan masuk ke jalan bebas hambatan tersebut.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos dan Logistik Indonesia (Asperindo) Budi Paryanto mengatakan, tarif tol yang tinggi memang menjadi alasan utama truk angkutan logistik enggan masuk ke jalan tol.

“Truk enggak mau masuk itu karena biaya. Karena sistemnya truk itu borongan. Misalnya 2 hari sampai sana (tujuan), biaya sekian,” ujarnya, Rabu (27/2) seperti dikutip dari Liputan6.

Oleh sebab itu, lanjut dia, untuk tol yang baru diresmikan seperti pada beberapa ruas di Trans Jawa, seharusnya ditetapkan tarif yang lebih murah. Sehingga keberadaan tol tersebut diminati oleh truk logistik.

“Harusnya sekian tahun pertama harusnya familiarsiasi dulu. Jangan kita masuk sudah tinggi. Ini nanti katanya 15 tarif tol mau naik lagi,” ‎ungkap dia.

Jika tarif tol yang dikenakan sudah langsung tinggi, kata Budi, akibatnya keberadaan tol justru tidak dimanfaatkan secara maksimal. Sehingga tujuan dibangunnya tol untuk menekan biaya logistik pun tidak akan tercapai.

“Pemanfaatannya tidak maksimal, karena ada regulasi-regulasi ini,” katanya.

Baca juga: Banyak Diprotes Pemerintah Kaji Penurunan Tarif Tol Trans Jawa

menanggapi hal tersebut, Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan saat ini masih terlampau dini untuk menilai bahwa jalan tol tersebut mahal. Sebab jalan bebas hambatan tersebut baru saja tersambung pada tahun ini.

“Jalan tol Trans Jawa terlalu mahal, itu dilihat dari mana? Kita perlu lihat keseimbangannya jangan buru-buru untuk menilai,” ungkapnya.

Mantan Kepala Staf Kepresidenan ini kembali menegaskan, jalan tol dibangun sebagai alternatif bagi pengguna jalan. Jika pengguna jalan ingin murah dengan waktu tempuh yang lebih lama maka tidak perlu menggunakan jalan tol.

“Nanti akan terjadi perubahan, orang jadi punya pilihan. Kalau enggak mau bayar dia lewat Pantura (Jalan non-tol), kalau mau cepat ya dia lewat tol,” jelasnya.

Menurut Luhut, seiring berjalannya waktu jalan tol Tranas Jawa akan dibanjiri oleh pengguna jalan.

Sebab kehadiran tol trans Jawa membuat waktu tempuh melalui jalur darat tidak kalah cepat dengan menggunakan moda transportasi seperti kereta api hingga pesawat terbang.

“Dua minggu lalu di Solo orang enggak mau lagi naik pesawat, karena dia 2,5 jam sudah sampai di Surabaya. Kita perlu lihat keseimbangannya. jangan buru-buru menilai,” tuturnya. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*