Film Yowis Ben 2, Sarana Pelestarian Bahasa Daerah 

Yowis ben
Yowis Ben 2 | Foto: google

JoSS, JAKARTA – Film drama komedi Yowis Ben 2 , para pemain akan berdialog menggunakan bahasa Jawa dan Sunda.

“Ini menarik juga, Yowis Ben satu kan kita pakai bahasa Jawa, nah Bandung kan Sunda, jadi ketemu. Nanti ada cross culture-nya. Jadi bahasanya kan kami gunakan bahada daerah,” kata Bayu seperti dikutip dari Kompas.com, belum lama ini.

Film Sekuel Yowis Ben 2 menceritakan kisah lanjutan para personel Yowis Ben yakni Bayu Skak sebagai Bayu, Joshua Suherman sebagai Doni, Tutus Thomsons Sebagai Yayan, dan Brandon Salim sebagai Nando berjuang terjun industri musik tanah air.

Yowis Ben yang berasal dari Malang ingin melakukan proses perekaman ke kota Bandung. “Ini karena kami mikirnya anak band itu kalau mau sukses kan mereka mau rekaman,” ucap Bayu. “Nah di lihat dari industri musiknya Bandung ini kan bagus. Banyak band-band terkenal lahir dari Bandung. Jadi kami tertarik ke Bandung,” lanjutnya.

Selain memberikan sajian yang menghibur, film yang disutradari oleh Fajar Nugros itu juga ingin menyampaikan pesan kepada generasi milenials agar tetap melestarikan bahasa daerahnya masing-masing.

“Kami menyuarakan bahwa kita sebagai bangsa yang besar jangan melupakan bahasa daerah kita masing-masing. Kita harus lestarikan, kan banyak anak-anak sekarang, saya kan di Malang, anak-anak kecil bahasanya ‘gue elu’,” ucap Bayu.

Baca juga: Main Film, Carissa Perusset Belajar Bahasa Indonesia Setahun

Film yang dijadwalkan tayang pada 14 Maret 2019 mendatang itu turut dibintangi oleh Anggika Bolsterli, Laura Theux, Devina Aureel, dan Anya Geraldine.

Sementara itu Konsultan Komedi sekaligus pemain film Yowis Ben 2, Joshua Suherman merasa kesulitan dalam menyamakan persepsi saat membuat lelucon ke dalam dua bahasa, Jawa dan Sunda.

Hal itu dikatakan Joshua saat berkunjung ke Redaksi Kompas.com, di Menara Kompas, Palmerah Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (27/2). “Yang film pertama memang kita ada rasa kekhawatiran jokes kita tidak dipahami, tapi ternyata oke respons masyarakat sangat baik,” kata Joshua.

“Nah yang kedua ini mungkin lebih ke masalah ini, karena ada dua kultur yang berbeda, nah menyamakan persepsi itu juga PR (pekerjaan rumah), Bayu tertuma. Jadi kita lebih ekstra concern ke situ,” sambungnya.

Bayu Skak sebagai pemeran utama dan penulis skenario melanjutkan, dia sangat berhati-hati memilih kata dalam dua bahasa itu. Bahkan, Bayu menyiapkan dua konsultan komedi yang berbeda. (Wiek/lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*