Dikira Marmer Biasa Ternyata Prasasti Belanda

marmer
Matias Andry, pegawai Dinas Pemadam Kebakaran Solo menunjukan marmer peninggalam zaman Belanda | Foto: google

JoSS, SOLO – Matias Andri (46), petugas Fighter Dinas Kebakaran (Damkar) warga Mangkubumen, Banjarsari, Solo menemukan lempengan prasasti yang berbentuk batu marmer utuh berukuran 1×1,5 meter dan ketebalan 7 centimeter ini pada akhir pekan lalu.

Lempengan ini bertuliskan bahasa Belanda yakni “Deza ingang werd opgeridht in 1930 huldeblijk der Europee sche ingezetenen aan Z.H Pakoe Boewono X Soesoehoenan van Soerakarta bij Hoogstdezzelfs 64 sten verjaardag op 3 Januari 1929”.

Andri menyatakan bahwa sebelumnnya lempengan ini digunakan sebagai meja alas untuk piket di gedung lama Pos Damkar Pedaringan. Dirinya tidak tahu bahwa benda tersebut merupakan prasasti.

“Teman-teman di Damkar mengira bahwa ini marmer biasa. Bahkan ada yang mengira itu marmer bekas nisan kuburan Cina. Apalagi dulunya di sini (Pos Damkar, Pedaringan, red) dulunya kuburan Cina,” ucapnya seperti dirilis Gatra.com.

Pada Minggu (10/2) malam dirinya yang saat itu bertugas piket dibantu kawannya memindahkan meja tersebut ke bagian depan kantor. Namun karena marmer tersebut berat, akhirnya marmer dipisahkan dari kaki meja.

“Setelah mengangkatnya kami jadi tahu ada tulisan di bawahnya setelah membalik posisi marmer,” ucapnya.

Baca juga: Tak Ada Kirab, HUT Solo Gelar Opera ‘Adeging Kutha Sala’

Saat itu terlihat kondisi prasasti yang kotor akibat debu yang tertempel selama bertahun-tahun. Dirinya berinisiatif untuk membersihkan bagian bawah marmer. Setelah dibersihkan kemudian muncul tulisan berbahasa Belanda.

“Saya inisiatif dengan mencari arti tulisan melalui google translate, namun artinya tidak jelas. Sebab dalam mesin pencarian tersebut artinya pintu masuk didirikan tahun tersebut sebagai kewajiban pendidik eropa untuk sunan PB X dari Surakarta dimeja tinggi,” ujarnya.

Andri saat ini masih belum tahu akan diapakan benda tersebut. Sebab dirinya sudah melaporkan hal ini ke atasannya, bahkan sudah dilaporkan pula ke Keraton Surakarta melalui Gusti Puger.

Menanggapi hal ini Pakar Sejarah Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta Sri Margana menuturkan  bahwa secara konteks bahasa, prasasti tersebut bertuliskan dibuat tahun 1930. Prasasti ini dibuat oleh penduduk Eropa sebagai penghargaan pada Yang Mulia Susuhunan Paku Buwono (PB) X pada ulang tahun ke 64 pada tanggal 3 Januari 1929.

“Kalau sekarang seperti kartu ucapan ulang tahun,” ujarnya.

Sejarawan Solo, Heri Priyatmoko, yang juga Dosen Sejarah di Universitas Sanata Dharma Jogja, mengatakan prasasti tersebut mengandung tiga makna sejarah. Pertama prasati itu merupakan bentuk penghormatan kepada PB X selaku pemimpin yang memiliki kawasan Kota Solo.

Lalu, prasasti itu merupakan penanda unsur ruang kota atau akses masuk menuju Kota Solo. Prasasti bisa juga sebagai pelengkap dari Tugu Cembengan yang difungsikan sebagai batas teritorial Kota Solo dengan wilayah pinggiran. (Wiek/lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*