JoSS, WASHINGTON DC – Open AI (artificial intelligence) disebut-sebut telah berhasil mengembangkan kecerdasan buatan yang bisa membuat teks otomatis.
Kecerdasan itu diantaranya mengembangkan berita, melakukan tinjauan produk, translasi, merangkum, dan berbagai keperluan menulis lainnya.
Hasil tulisan software ini bahkan disebut lebih realistis dari software yang pernah dikembangkan sebelumnya. Kecanggihan software ini lantaran memilki banyak tolok ukur pemodelan bahasa.
Peneliti menyebut bahwa model software mereka yang dinamakan GPT-2 “melampaui model bahasa lainnya” ketika diuji untuk melakukan tugas seperti menulis masukan untuk Wikipedia, berita, atau buku tanpa perlu pelatihan khusus.
Namun, saat ini software tersebut belum akan dirilis ke publik dan mereka masih menyembunyikan detilnya.
“Kami mengkhawatirkan aplikasi berbahaya (malicious) dari teknologi ini, (sehingga) kami tidak merilisnya model yang masih dilatih (ini),” jelas peneliti OpenAI dalam tulisan di blognya, Kamis (14/2), seperti dirilis CNNIndonesia.com.
Baca juga: Kalangan Akademisi Dorong Peningkatan Nilai Jual Kopi Lewat Diseminasi Teknologi
Tidak dirilisnya aplikasi ini ke publik dikhawatirkan bisa dikembangkan untuk mengembangkan berita palsu, meniru orang lain di dunia maya, dan melakukan otomasi akun palsu di media sosial.
Salah satu contohnya ketika program diberi masukan satu paragraf tentang “kawanan unicorn yang tinggal di lembah Andes, wilayah terpencil yang belum terjamah,” software ini lantas menulis 300 kata mengenai hal itu.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump resmi menandatangani sebuah perintah pada Senin (11/2) yang meminta lembaga pemerintah federal untuk mendedikasikan lebih banyak sumber daya dan investasi dalam bidang penelitian, promosi dan pelatihan serta AI atau yang lebih dikenal sebagai ‘kecerdasan buatan’.
Dilansir dari Reuters, Trump dalam pidatonya pekan lalu mengatakan ia siap bekerja dengan para pembuat undang-undang untuk memberikan investasi infrastruktur yang baru.
Termasuk investasi untuk masa depan industri-industri mutakhir yang ia sebut sebagai kebutuhan.
Di bawah American AI Initiative, Trump mengarahkan seluruh lembaga di pemerintahannya untuk memprioritaskan investasi AI dalam bidang penelitian dan pengembangan.
Selain itu, meningkatkan akses data dan model untuk penelitian tersebut serta mempersiapkan pegawai untuk beradaptasi dengan era AI.
“Dengan kepemimpinan yang tepat, AI dapat memberdayakan pegawai di Amerika dengan membebaskan mereka dari tugas-tugas duniawi,” ucap Penasihat Sains Gedung Putih Michael Kratsios, belum lama ini. (Wiek/lna)

Leave a Reply