
JoSS, KEBUMEN – Jebolnya sejumlah tanggul di Kebumen hingga kini masih mengancam beberapa wilayah di Kebumen. Karena hingga saat ini penanganan yang dilakukan masih darurat yakni dengan menggunakan karung berisi pasir.
Sementara itu, penanganan secara permanen masih belum dilakukan oleh dinas terkait.
Dari data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kebumen, sebanyak delapan tanggul jebol sejak Rabu (16/1). Jumlah terbanyak berada di Kecamatan Adimulyo yakni di Desa Caruban dengan 750 jiwa terdampak, Desa Arjosari 100 jiwa terdampak, dan jebolnya tanggul di Dusun Gebang Desa Adiluhur dengan 300 KK terdampak.
Jebolnya tanggul juga mengakibatkan banjir dengan genangan di permukiman hingga 70 cm. Bahkan air dari jebolnya tanggul menggenangi sejumlah desa di Kecamatan Puring. Warga pun merasa was-mas, lantaran tidak menutup kemungkinan jika hujan turun dan debit sungai meningkat tanggul darurat akan jebol lagi.
Tanggul jebol juga terjadi di Desa Wanareja, Kecamatan Karanganyar dengan 27 jiwa terdampak. Kemudian tanggul jebol di Desa Jogomulyo Kecamatan Buayan yang ngancam perumahan warga. Tenggul jebol di Dusun Penasutan, Desa Jatisari, mengakibatkan air Sungai Kedungbener menerjang permukiman warga. Begitu juga tanggul jebol di Kelurahan Tamanwinangun mengakibatkan genangan di area persawahan dan permukiman warga.
Baca juga: Warga Dari 7 Desa Di Kebumen Masih Bertahan Dipengungsian
“Kami berharap tanggul yang jebol diperbaiki secara permanen dan kondisi yang rawan jebol segera dilakukan perbaikan sehingga tidak jebol saat banjir,” ujar Kepala Desa Madurejo, Kecamatan Puring Asiari, belum lama ini, seperti dirilis Suaramerdeka.com.
Maklum akibat tanggul jebol dan meluapnya sungai di Daerah Aliran Sungai (DAS) Telomoyo, 2.000 warga Desa Madurejo menjadi korban banjir. Selain merendam permukiman, air juga menggenangi persawahan yang sudah ditanami padi.
Secara terpisah, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kebumen Slamet Mustholkah mengatakan, pihaknya melakukan koordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO). Pasalnya, sejumlah sungai yang tanggulnya jebol merupakan di bawah wewenang BBWSSO.
“Saat ini penanganan bersifat darurat. Sedangkan penanganan permanen akan ditangani Balai Besar,” katanya. (Wiek/lna)

Leave a Reply