Catat! Citilink Berlakukan Tarif Bagasi Februari Mendatang

Citilink
Citilink | Foto: inframe.id

JoSS, JAKARTA – Maskapai penerbangan Citilink memastikan pemberlakuakn tarif bagasi pada awal Februari mendatang, mundur dari rencana semula jaitu pada Januari ini. Anak usaha Garuda Indonesia ini mengaku mengantongi persetujuan dari Kementerian Perhubungan RI.

Direktur Utama Citilink Indonesia Juliandra Nurtjahjo mengatakan pihaknya telah melakukan konsolidasi dengan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub dan sudah mendapat persetujuan terkait pentarifan bagasi penumpang.

“Karena secara Undang-Undang kita diperbolehkan. Cuma kemarin yang dimintakan persetujuan prosedurnya, sama langkah-langkahnya. Makanya kita konsolidasi terus dengan kementerian, termasuk campaign-nya,” katanya, belum lama ini.

Juliandra mengatakan awalnya, penetapan tarif bagasi dilakukan akhir Januari ini, tetapi mundur menjadi Februari. “Kita lagi mau ‘campaign’ dulu, jadi kemungkinan geser sedikit dari akhir Januari, sekitar minggu-minggu awal Februari,” katanya.

Untuk itu, Juliandra mengatakan Citilink akan mensosialisasikan dengan baik agar tersampaikan kepada masyarakat dan ia meyakini tidak ada penolakan.

“Sepanjang sosialisasinya dilakukan dengan tepat, saya yakin enggak [ada penolakan] ya. Karena memang dibolehkan LCC [Low Cost Carier] untuk menghapus ‘free baggage’,” katanya.

Ia juga mengatakan bahwa penumpang masih bisa mendapatkan bagasi gratis 10 kg bagi mereka yang termasuk anggota dan membeli “green seat”.

Baca juga: Bagasi Berbayar dan Mahalnya Tiket Pesawat Ancam Industri Pariwisata

Ketentuan mengenai bagasi diatur dalam Pasal 22 Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 185/2015 tentang Standar Pelayanan Penumpang Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri.

Dalam aturan tersebut dinyatakan setiap maskapai dalam menentukan standar pelayanan memperhatikan kelompok pelayanan yang diterapkan masing-masing maskapai, termasuk kebijakan bagasi tercatat.

Penerbangan berbiaya murah lainnya yang sudah menerapkan bagasi berbayar, yakni Lion Air dan Wings Air pada 22 Januari lalu, sementara maskapai AirAsia Indonesia masih memberlakukan tarif cuma-cuma untuk bagasi seberat 15 kg dalam penerbangan domestik.

Sebelumnya, Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi mengatakan saat ini kondisi penerbangan dalam negeri cukup berat. Tidak hanya maskapai Garuda Indonesia yang merugi, tetapi sejumlah maskapai lain juga mengalami nasib sama. Menurut dia, industri penerbangan high profile, low profit.

“Ini yang menjadi dasar kenaikan harga tiket pesawat dan tarif bagasi. Tujuannya agar industri penerbangan tetap eksis,” ujarnya.

Menurut Budi, persaingan di dunia penerbangan cukup tinggi. Di sisi lain, pembelian bahan bakar Avtur yang mencapai 40% juga menjadi salah satu penyebab harga tiket naik. Kondisi Indonesia yang kepulauan dinilai turut mendorong tingginya pemakaian Avtur.

Budi mengungkapkan setidaknya ada dua inovasi yang dilakukan untuk mengatasi agar konektivitas masyarakat tetap baik, dan di sisi lain industri penerbangan tetap eksis.

“Kami menerapkan cross subsidy, memberikan tarif murah pada jam-jam tertentu, dan memberikan tarif komersial di waktu-waktu tertentu. Inovasi lain, kenaikan tarif bagasi. Jadi kalau pergi ke mana-mana, bawa barang seperlunya sehingga bisa dengan LCC [low-cost carrier] yang murah,” katanya. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*