
JoSS, BREBES – Rest area KM 260 B di ruas tol Pejagan – Pemalang diyakini akan jadi destinasi wisata yang paling indah di Indonesia. Hal ini lantaran di rest area ini terdapat juga bekas pabrik gula (PG) Banjaratma yang dibangun pada tahun 1908 oleh perusahaan gula asal Belanda N.V. Cultuurmaatschappij (perusahaan perkebunan yang berpusat di Amsterdam).
Perpaduan eksotisme bangunan serta kelezatan kuliner khas akan jadi daya tarik tiada duanya.
“Ini akan jadi the best rest area dan secara arsitektur akan jadi De Tjolomadoe 2. Bahkan tidak sekadar rest area, ini juga akan jadi destinasi wisata yang bisa kita kembangkan untuk pertunjukan,” kata Ganjar saat meninjau proses pembangunan TIP KM 260 B, belum lama ini seperti dirilis Suaramerdeka.com.
Merenovasi bangunan cagar budaya memang tidak gampang. Karena harus taat pada nilai-nilai sejarah, salah satunya tidak boleh mengubah nilai artistik dan esensi awal bangunan. Terlebih pada masanya, PG Banjaratma ini sekaligus menjadi tempat penelitian atau Proefstations.
Memasuki bangunan tersebut Ganjar menyimak langsung bekas-bekas ruang dan peralatan seperti menyusuri perjalanan pembuatan gula pada masa lalu. Dari tungku, mesin “roda gila” dan lorong-lorong bekas pencipta uap, mengingat pabrik gula ini dulunya menggunakan teknologi uap air bukan kayu maupun batubara.
Baca juga: Angkat Potensi Daerah, Pemkab Bangun Kios Berbentuk Buah
“Bahkan tidak sekadar rest area, ini juga akan jadi destinasi wisata yang bisa kita kembangkan untuk pertunjukan. Tinggal yang mengelola ini buruh kreasi dan inovasi,” katanya.
Pabrik Gula Banjaratma didirikan oleh N.V. Cultuurmaatschappij (perusahaan perkebunan yang berpusat di Amsterdam) pada tahun 1908. Pada peta Dutch Colonial Maps thun 1918, Pabrik Gula Banjaratma disebut dengan Station Banjaratma.
Proefstations atau Stasiun Pengujian yang dimaksud adalah tempat khusus untuk melakukan penelitian ilmiah terhadap budidaya dan proses produksi gula sehingga memperoleh produksi yang optimal.
Pada tahun 1997 merupakan operasional terakhir PG Banjaratma karena kerugian yang terjadi secara terus menerus, biaya operasional tidak sebanding bengan keuntungan yang diperoleh.
Beberapa bagian mesin yang masih dapat digunakan dipindahkan ke pabrik gula lainnya seperti PG Jatibarang untuk menggantikan kerusakan mesin di pabrik gula dimaksud. (Wiek/lna)

Leave a Reply