JoSS, JOGJA – Libur sekolah telah tiba. Berbarengan dengan masa libur akhir tahun, perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru). Jogja dengan beragam destinasi wisatanya dipastikan menjadi jujugan para siswa. Belum lagi wisatawan keluarga yang ingin menikmati malam Nataru di pusat kota, Malioboro misalnya.
Anda bisa membayangkan bagaimana kondisi Jogja saat ini hingga pergantian tahun nanti ?
Ribuan kendaraan, baik mobil pribadi maupun bus pariwisata dipastikan berjubel menyesaki jalanan pusat kota maupun destinasi wisata di sekitarnya.ibur sekolah telah tiba. Berbarengan dengan masa libur akhir tahun, perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Jogja dengan beragam destinasi wisatanya dipastikan menjadi jujugan para siswa. Belum lagi wisatawan keluarga yang ingin menikmati malam Nataru di pusat kota, Malioboro misalnya.
Anda bisa membayangkan bagaimana kondisi Jogja saat ini hingga pergantian tahun nanti ?. Ribuan kendaraan, baik mobil pribadi maupun bus pariwisata dipastikan berjubel menyesaki jalanan pusat kota maupun destinasi wisata di sekitarnya.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Jogja Wirawan Haryo Yudho kepada Harianjogja.com memberikan sedikit tips agar perjalanan wisata Anda tidak terlalu dipusingkan dengan urusan macet.
Sebab, berbekal pengalaman yang sudah ada, volume kendaraan selama musim libur akhir tahun di Jogja bakal melonjak drastis.
Wisatawan keluarga yang menggunakan armada mandiri, disarankan mencari lokasi parkir di wilayah pinggiran atau sebelum tempat wisata.
Untuk menjangkau pusat kota, wisatawan bisa memanfaatkan moda transportasi umum seperti taksi atau Bus Trans Jogja. Saran tersebut disampaikan karena kapasitas parkir di pusat kota sangat terbatas dan tidak mampu menampung semua kendaraan.
“Ini untuk mengantisipasi kepadatan arus kendaraan bermotor selama musim liburan ini,” katanya Sabtu (22/12/2018).
Diakuinya, hingga kini Dishub belum dapat menerapkan ketentuan larangan bus-bus pariwisata masuk kawasan kota.
Itu dikarenakan banyak faktor, salah satunya hingga kini daya dukung untuk menerapkan kebijakan tersebut belum memadai.
Misalnya ketersediaan shelter bus dan kendaraan hub untuk mengangkut wisatawan yang belum memadai.
Baca juga: Konser Seventeen Tersapu Tsunami, Basis Dan Road Manajer Meninggal
“Sementara ini kami meminta para bus pariwisata untuk arif dalam berkendara karena bus-bus wisata ini turut menyumbang kepadatan arus lalu lintas di perkotaan,” tutur dia.
Dijelaskan, setiap musim liburan sekolah bus pariwisata dengan jumlah rombongan selalu memadati wilayah Jogja.
Padahal kapasitas jalan di Kota Jogja sangat terbatas. Praktis jika kendaraan-kendaraan berdimensi besar masuk kota akan menambah beban lalu lintas.
“Kearifan dalam berkendara ini sangat dibutuhkan agar kepadatan bisa mudah terurai,” jelas Wirawan.
Salah satu kendala yang kerap ditemui, lanjutnya, rombongan bus pariwisata tidak mau perjalanannya terputus. Baik pengemudi maupun para penumpang seakan enggan terpisah.
Akibatnya, pada ruas jalan yang jarak antar traffic light terlalu dekat, kerap mengalami kepadatan kendaraan.
“Selain dibutuhkan pengertian dari pengemudi bus pariwisata, kami bedakan jalur bus pariwisata yang memiliki tujuan di pusat kota seperti Kraton, Malioboro maupun Taman Pintar,” bebernya.
Misalnya, bus dimasukan melewati Jalan Kusumanegara kemudian dikeluarkan ke arah Jalan Brigjend Katamso atau lainnya.
“Jangan sampai masuk dan keluarnya di jalur yang sama,” imbuh dia.
Nah, saran tersebut bisa jadi pertimbangan Anda yang ingin berwisata di Jogja bersama keluarga. Tidak ada salahnya dicoba. Toh, berwisata ke pusat kota dengan menumpang moda transportasi akan memberi sensasi tersendiri.
Keakraban antar anggota keluarga makin terjalin, sekaligus bisa menjadi sarana pendidikan moral kepedulian sekitar ke putra putri Anda. (Joy)

Leave a Reply