
JoSS, JAMAIKA – UNESCO resmi mengumumkan bahwa musik reggae merupakan warisan budaya. Musik yang lahir di Jamaika itu dinyatakan Unesco sebagai warisan kultur tanpa wujud, sehingga dianggap layak untuk dijaga dan dipromosikan bersama tradisi lain dari belahan benua lain.
“Hari ini hari bersejarah. Kami sangat, sangat gembira,” kata Menteri Kebudayaan Jamaika, Olivia Grange terkait berita tersebut.
“Ke manapun kau pergi dan memberitahu seseorang kau berasal dari Jamaika, mereka berkata, ‘Bob Marley’” lanjutnya seperti dirilis CNNIndonesia.com.
Grange menjelaskan, musik reggae menegaskan pentingnya kultur Jamaika, yang mengusung pesan ‘one love’, kebersamaan dan perdamaian.
UNESCO menyatakan bahwa di awal mula, reggae merupakan suara dari kaum marjinal. Namun kini, musik tersebut dimainkan dan telah berkembang menjadi suara masyarakat, tanpa memandang perbedaan gender, etnis dan agama.
“Musik reggae telah berkontribusi secara internasional, mewakili isu-isu tentang ketidakadilan, perlawanan, cinta dan kemanausiaan.
Secara umum, reggae menjadi bentuk perayaan dinamis, baik dari sudut sosial, politik, dan spiritual,” ujar UNESCO, dilansir dari AFP.
Reggae lahir di akhir 60an, merupakan perkembangan dari musik ska dan rocksteady. Dengan sentuhan jazz dan blues, musik ini berkembang sangat pesat di Amerika dan Inggris, bahkan melahirkan banyak sub-genre lain.
Baca juga: Uji Keberanian, Memberi Makan Singa di Taman Safari
Bob Marley sebagai ikon reggae, tak dapat dipungkiri pada akhirnya menjadi agen pengubah kultur pop dunia.
Meskipun begitu, band ska-reggae veteran Toots and the Maytals dianggap menjadi yang pertama melahirkan istilah ‘reggae’ itu sendiri dengan lagu ‘Do the Reggay’.
Musik reggae juga mampu digunakan untuk kepentingan promosi pariwisata.
Ras Muhamad siap berkolaborasi dengan Kementerian Pariwisata dalam mengangkat promosi pariwisata di perbatasan (Crossborder Tourism).
“Saya cinta Indonesia. Di Eropa pun saya tetap mempromosikan Indonesia dengan Reggae. Saya senang melihat sendiri Kemenpar yang juga terus berpromosi di perbatasan untuk pariwisata Indonesia. Saya siap bersinergi melalui sosial media untuk terus mengkumandangkan Wonderful Indonesia,” ujar Ras Muhamad.
Ras memang selalu menjadi bintang tamu di perbatasan. Terutama perbatasan yang berdekatan dengan Papua yakni Papua Nugini.
Perbatasan Skouw, Keeroom dan Sota mayoritas kebanyakan suka dengan genre musik Reggae.
Imbasnya, dahsyat banget. Ribuan wisatawan mancanegara menyebrang ke tanah air Indonesia.
Ras juga menjadi bintang utama di Festival Crossborder Skouw Indonesia Incorporated di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Skouw yang digelar dari tanggal 25 hingga 27 Oktober 2018 lalu.
Ini merupakan event edisi ke-2. (Wiek/lna)

Leave a Reply