Halte Trans Semarang Jauhkan Penumpang dari Terminal Bandara Ahmad Yani

JoSS, SEMARANG – Halte baru Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani Semarang, Jawa Tengah dinilai belum mencerminkan semangat transportasi berbasis massa.

Letaknya yang jauh dari terminal penumpang bakal memicu keengganan penumpang pesawat menggunakan bus Trans Semarang.

“Halte bus di Bandara Ahmad Yani menjauhkan penumpang menuju terminal penumpang. Penumpang harus berjalan memutar sekitar 100 meter,” ungkap pengamat transportasi Djoko Setijowarno kepada JoSS.co.id, Minggu (30/12).

Menurut pengajar Universitas Katolik (Unika) Soegijopranoto Semarang tersebut konsep transportasi umum sebenarnya seperti yang sudah diselenggarakan saat ini. Yakni mendekatkan bus Trans Semarang ke terminal penumpang.

Dimana transportasi umum tersebut bisa menurunkan dan menaikkan penumpang di jalur dekat terminal penumpang bandara.

“Tidak harus ada halte yang dibuat seperti sekarang. Apalagi tempat naik turun penumpang yang ada selama ini juga sudah nyaman. Gagal paham lagi,” beber dia.

Bagi Wakil Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) ini, bukan tanpa alasan transportasi umum diposisikan dekat dengan terminal penumpang.

Tujuannya mendorong kesadaran publik untuk lebih mau dan lebih banyak menggunakan transportasi umum.

Baca juga: Musisi Jogja Gelar Tribute To Seventeen

Dengan keberadaan halte bus yang dibangun dengan posisi saat ini dikhawatirkan akan membuat keengganan penumpang pesawat memanfaatkan bus Trans Semarang.

Sebaliknya, area atau gedung parkir kendaraan pribadi letaknya lebih dekat dengan terminal penumpang. Artinya pengelola bandara lebih memprioritaskan angkutan pribadi ketimbang angkutan umum

“Kalau menempatkan kendaraan pribadi dekat dengan terminal penumpang, berarti kita menomorduakan transportasi umum,” tegasnya.

Pendapat beda datang dari PT Angkasa Pura I selaku pengelola bandara. Menurut Communication and Legal Section Head PT Angkasa Pura I Kantor Cabang Bandar Udara Internasional Jenderal Ahmad Yani Semarang, Ahmad Danar Suryantono, penentuan letak halte angkutan umum sudah lewat pertimbangan matang.

Shelter bus rapid transit (BRT) tersebut berada sangat dekat dengan area terminal penumpang bandara. Sehingga penumpang pesawat dirasa berjalan tidak lebih jauh dibanding harus ke gedung parkir.

“Lokasinya juga telah sesuai dengan flow kendaraan dan orang, dalam hal ini penumpang, pengantar dan penjemput. Lokasi tersebut juga merupakan area untuk kendaraan bus lainnya,” tukas Danar. (Joy/lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*