JoSS, JOGJA – Pelaku ekspor Daerah Istimewa Yogyakarta meyakini dengan keberadaan New Yogyakarta International Airport (NYIA) bakal mendongkrak realisasi ekspor khususnya produk kelautan.
Pelaku dan pengamat ekspor impor DIY Nur Achmad Affandi mengatakan produk perairan DIY tidak kalah dengan komoditas ikan tuna asal Korea Selatan dan Jepang.
Menurut dia, produk perairan Jogja merupakan produk dari laut selatan yang dikenal cukup dalam. Besarnya peluang bisnis ini sudah ditangkap maskapai khusus yang siap mengangkut marine product dari Indonesia ke Hongkong.
“Hal ini dapat diakomodasi nantinya dengan dioperasikan bandara NYIA di Kulonprogo,” katanya seperti dikutip dari Harianjogja.com, Kamis (22/11).
Dia mengungkapkan bandara menjadi infrastruktur strategis yang akan memberikan peluang besar, khususnya untuk marine product.
Nur mengungkapkan potensi terbesar produk kelautan asal DIY antara lain ikan tongkol perairan DIY tidak kalah dengan komoditas ikan tuna asal Korea Selatan dan Jepang. Karena ini produk dari laut selatan yang kedalamannya sangat dalam,” ungkap Nur.
Mantan Ketua Kamar Dagang Indonesia (Kadin) DIY itu mengungkapkan laut selatan dinilai memiliki tingkat pencemaran yang cenderung lebih rendah dibandingkan laut utara Pulau Jawa.
Hal itu, lanjutnya membuat kualitas ikan di lautan dalam sangat bagus, terutama komoditas ikan tuna biru.
Kendati demikian, Nur memaparkan kendala yang dihadapi untuk memasarkan potensi tersebut adalah pada pengolahan atau ekspor komoditas itu dari Jogja. Ketidakadaan pabrik pengolahan yang berstandar internasional, membuat peluang ekspor komoditas ini terhambat.
Baca juga: Curangi Pengadaan Lahan Jalan Tol Belasan Perangkat Desa Terancam Dibui
“Komoditas ini harus diekspor melalui Semarang, Surabaya atau Jakarta. Di samping komoditas marine product, produk turunan tekstil, seperti produk fesyen juga merupakan potensi ekspor yang cukup baik, pasarnya tumbuh cukup besar,” jelas Direktur Utama PT Taru Martani ini.
Upaya membangun cargo village di New Yogyakarta International Airport (NYIA) juga telah ada dalam bagian rencana pembangunan bandara baru tersebut, General Manager PT Angkasa Pura I Bandara Internasional Adisutjipto Agus Pandu Purnama mengungkapkan terminal khusus kargo juga akan dapat beroperasi secara minimum pada April 2019.
Kendati demikian, memang belum dapat mengakomodasi semua komoditas ekspor dalam skala yang lebih besar. Pandu memastikan dibangunnya area khusus selama pengembangan, yakni cargo village, nantinya akan memungkinkan integrasi fasilitas penunjang ekspor komoditas DIY, terutama produk kelautan.
“Dalam cargo village itu nantinya terminal tersendiri, akan ada bea cukai, karantina untuk tiap jenis produk ekspor, regulated agent. One stop service area ini akan memudahkan proses pengiriman dan penerimaan produk ekspor maupun impor yang lebih cepat dan efektif,” jelas Pandu. (Wiek/lna)

Leave a Reply