Kipas Angin Bisa Picu Kematian?

kipas angin
Ilustrasi | Foto: google

JoSS, JAKARTA – Benarkah menggunakan kipas angin saat tidur bis berakibat kematian? Dokter spesialis paru, dr Frans Abednego Barus SpP, membantah hal tersebut dan menegaskan bahwa kematian memang bisa terjadi saat tidur namun bukan disebabkan oleh kipas angin.

dr Frans menegaskan, penggunaan kipas angin tidak bermasalah asal jangan sampai menggunakannya di ruangan yang tertutup total. Setidaknya ada ventilasi atau jendela terbuka untuk tetap memberikan suplai oksigen ke dalam kamar.

“Jadi gini, seseorang memakai kipas angin di kamar tertutup di mana akses oksigennya terbatas, itu bukan salah kipas anginnya. Kipas angin kan berfungsi sebagai pemutar udara, membuat aliran angin sehingga oksigen tetap masuk dan tetap ada pertukaran sirkulasi udara di dalam kamar,” dilansir dari detikHealth.

Jika kamar atau ruangan tertutup total tanpa ada ventilasi atau akses udara, maka tidak ada sirkulasi oksigen yang masuk. Memakai kipas angin atau tidak, seseorang yang berada dalam ruangan tertutup tanpa akses suplai oksigen bisa berujung fatal.

Selain itu, perlu diperhatikan juga untuk tidak menggunakan kipas angin tanpa diputar atau mengarahkan langsung ke badan. Serta rutin membersihkan bagian baling-baling kipas angin di mana tempat debu berkumpul, karena bisa menyebabkan masalah kesehatan jangka panjang bila dibiarkan kotor.

Lalu bagaimana dengan kasus komedian Pretty Asmara meninggal setelah mengalami penumpukan cairan di jaringan sekitar paru-paru. Kondisi ini mengingatkan pada istilah ‘paru-paru basah’, yang dikenal awam untuk menggambarkan kondisi paru yang terendam cairan. Salah satu yang dianggap menjadi faktor risiko adalah selalu dekat kipas dan tidur di lantai.

Baca juga: Ini Bahayanya Minum Rebusan Pembalut Organ Dalam Bisa Terkikis

Dokter ahli paru dari RS Persahabatan, Jakarta dr Agus Dwi Susanto SpP, mengatakan paru-paru basah sebetulnya tak dikenal dalam dunia medis. Istilah ini untuk menyatakan pembengkakan dalam jaringan paru, karena mengandung terlalu banyak cairan atau edema paru.

“Hingga saat ini belum ada bukti medis yang menyatakan, penggunaan kipas angin atau tidur di lantai bisa menyebabkan paru-paru basah. Kondisi ini bisa dihindari dengan mengetahui faktor risikonya,” ujar dr Agus dilansir dari detikHealth, belum lama ini.

Paru-paru basah sebetulnya juga kerap ditujukan pada gangguan yang disebut efusi pleura. Kondisi ini ditandai kelebihan cairan pada rongga antara lapisan paru dan dinding dada. Sama dengan edema, efusi pleura menyebabkan jaringan paru membengkak.

Beberapa kondisi yang bisa menyebabkan edema adalah pneumonia, gagal jantung, dan gagal ginjal. Edema paru bisa dihindari dengan penerapan pola hidup sehat, kontrol rutin, dan minum obat bagi yang terdeteksi. (Wiek/lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*