
JoSS, JAKARTA – Sosok Daniel Mananta makin melejit setelah dirinya tampil total untuk perannya sebagai Ahok dalam film berjudul ‘A Man Called Ahok’.
Demi memiripkan penampilan, dirinya juga menaikkan berat badannya.
“Gue nambahin berat badan 5-6 kilo. Perutnya emang buncit karena kita pakai body suit,” ujar Daniel saat ditemui di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, belum lama ini seperti dirilis Detik.com.
“Udah nonton filmnya gue puas banget. Jujur kayak gue puas karena banyak ketakutan gue bahwa film, ini akan dipolitisasi. Tapi dari awal kita udah dibuat tersentuh dengan karakter Kim Nam (ayah Ahok). Semakin ke sini juga kita dibuat tersentuh sama karakter Ahok sampai jadi gubernur jadi kena banget sih dramanya,” tukasnya.
Film garapan sutradara Putrama Tuta ini akan tayang pada tanggal 8 November 2018 dengan menggandeng Daniel Mananta, Chew Kim Wah, Sita Nursanti, Donny Damara, Denny Sumargo, Eriska Rein, Ferry Salim, Eric Febrian, Edward Akbar, Jill Gladys, dan beberapa pemain lainnya.
Nama Daniel Manantasudah menjadi salah satu presenter paling top di Tanah Air. Ia kerap didapuk membawakan acara-acara besar dan mewakili Indonesia di acara internasional. Selain itu, bisnis pakaiannya pun laku keras.
Jebolan VJ MTV ini tak mendapatkan kesuksesannya secara instan. Walau bersekolah di Australia, Daniel pun pernah merasakan asam garam kehidupan mencari uang dari bawah.
Baca juga: Makan Sebaiknya Tidak Lebih Dari Jam 2 Siang
Sejak SMP kelas 2 Daniel dikirim untuk bersekolah di Australia. Namun pada 1998, krisis moneter yang mendera Indonesia turut memengaruhi kondisi finansial keluarganya.
Bukan anak manja, Daniel pun bekerja keras di sana demi membantu perekonomian keluarga.
Daniel Mananta bekerja di sebuah restoran ayam. Di sana ia harus mengerjakan berbagai tugas. Mulai dari memasak ayam, sampai cuci piring. Bahkan ia juga harus membersihkan WC. Hampir semua tugas yang diperintahkan harus rela dilakoninya.
Setelah itu Daniel pun pernah mencoba peruntungan di dunia MLM. Lagi-lagi ia kesulitan mendapatkan pelanggan. Pantang menyerah, usai kuliah ia melamar pekerjaan di berbagai tempat di Australia. Namun, Daniel terus menerus ditolak. Sampai akhirnya ia diterima di sebuah bank dalam posisi intern (magang).
Walau bekerja di bank namun posisinya yang hanya pegawai magang membuat Daniel kerap diberi tugas tak ubahnya office boy. Tugasnya hanya sebatas membuat kopi, foto kopi, dan tugas-tugas remeh semacamnya. Ia pun merasa gagal dan memilih pulang ke Indonesia. (Wiek/lna)

Leave a Reply