
JoSS, SOLO – Pemprov Jawa Tengah menargetkan nilai ekspor 6,151 miliar dolar Amerika Serikat (AS) seiring dengan sejumlah upaya yang dilakukan untuk percepatan ekspor. Amerika Serikat, Jepang dan China hingga kini masih mendominasi tujuan ekspor.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah Arif Sambodo mengatakan hingga saat ini realisasi ekspor Jateng sudah 4,5 miliar dolar AS.
Sementara itu berdasarkan Data Badan Pusat Statistik (BPS), tiga negara masih mendominasi dalam pangsa pasar ekspor Jawa Tengah sepanjang periode Januari-September 2018.
Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), Amerika Serikat menjadi tujuan utama ekspor Jateng dengan nilai mencapai US$1,356 miliar sepanjang periode tersebut. Negara berikutnya adalah Jepang dengan nilai US$624,59 juta, disusul China senilai US$397,92 juta.
“Berdasarkan data BPS, ada kenaikan nilai ekspor sebesar 12,8 persen jika dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Artinya penguatan dolar AS terhadap rupiah ini memberikan dampak cukup positif terhadap kinerja ekspor di Jawa Tengah,” katanya di Solo, Jumat (19/10), seperti dikutip dari Antara.
Baca juga: Ditemukan Kampung Tua di Danau Sentani
Ia mengatakan sejauh ini komoditas utama ekspor Jateng di antaranya tekstil dan turunannya, kayu dan turunannya, serta barang dari pabrik. “Sedangkan untuk pasar ekspor yang memberikan kontribusi besar masih pasar tradisional di antaranya Amerika Serikat, Jepang, dan Tiongkok,” katanya.
Ketiga negara tersebut memiliki pangsa pasar mencapai 48,32% yang didominasi oleh ekspor barang-barang dari kayu, perabot rumah tangga, serta barang dan perlengkapan pakaian bukan rajutan.
Menurut dia, salah satu upaya untuk mempercepat ekspor yaitu membuka pasar ekspor baru. Ia berharap para pelaku usaha tidak hanya fokus terhadap pasar tradisional tetapi mulai menggarap pasar lain.
Negara-negara Uni Eropa memiliki pangsa pasar 12,63% atau setara dengan US$621,82 juta, sementara negara-negara Asean mengambil porsi 9,24% atau setara dengan US$454,89 juta. Adapun sembilan negara utama lainnya tercatat memiliki kontribusi senilai US$2,992 miliar.
Kepala BPS Jateng Sentot Bangun Widoyono mengatakan secara historis, ketiga negara utama tersebut memang menjadi tujuan utama ekspor Jateng. Namun, apabila dilihat secara bulanan, terjadi penurunan bila dibandingkan dengan nilai ekspor pada Agustus 2018.
“Kalau dibandingkan dengan Agustus 2018 ada penurunan. Memang dari tahun-tahun sebelumnya selalu ada penurunan di September,” tuturnya.
Meskipun begitu, dia menyatakan nilai ekspor kumulatif sepanjang Januari-September 2018 masih lebih tinggi bila dibandingkan dengan nilai ekspor pada periode yang sama tahun lalu. (lna)

Leave a Reply