JoSS, JAKARTA – Teka-teki siapa Calon Wakil Presiden yang akan mendampingi Joko Widodo (Jokowi) dalam kontestasi Pillpres 2018 yang pendaftarannya akan dibuka mulai 10 Agustus 2018, sudah dipastikan berasal dari 10 nama yang sudah disaring sejak beberapa waktu lalu.
Ke-10 nama yang salah satunya dipastikan akan mendampingi Jokowi terdiri dari 3 nama yang berasal dari ketua umum partai pengusung, yaitu Airlangga Hartarto (Partai Golkar), Muhaimin Iskandar (PKB) dan Romahurmuziy (PPP); kemudian dua dari unsur ulama yaitu KH Ma’ruf Amin (Ketua MUI) dan Din Syamsudin (mantan Ketua Muhammadiyah); dari unsur teknokrat yaitu Sri Mulyani Indrawati (Menteri Keuangan) dan Susi Pudjiastuti (Menteri Kelautan dan Perikanan); serta dari unsur professional yaitu Jenderal TNI (Purn) Moeldoko (Kepala Kantor Staf Kepresidenan), Mahfud MD (mantan Ketua Mahkamah Konstitusi) dan Chairul Tandjung (pengusaha dan pemilik media).
Menurut Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Romahurmuziy alias Romi, ke-10 nama itu diperoleh sesuai pembicaraan dengan Presiden Jokowi di Istana Bogor pekan lalu. “Yang pasti tidak akan keluar dari 10 nama itu. Salah satu akan mendampingi Pak Jokowi di Pilpres 2019,” kata Romi, Senin (16/7).
Pernyataan Romi cukup mengejutkan, mengingat kebiasaan selama ini koalisi partai politik membuka nama-nama menjelang akhir masa pendaftaran. Namun kali ini polanya berbeda. “Pak Jokowi sendiri yang meminta saya men-share agar ada masukan-masukan dari masyarakat,” kata Romi dalam suatu acara di stasiun televisi.
Mengenai siapa yang lebih berpeluang, menurut Romi, semua punya peluang sama. Yang pasti, kata dia, sejak awal seluruh Parpol pengusung Jokowi tidak ada yang mewajibkan kadernya harus menjadi Cawapres. “Kita menghargai, menghormati dan legowo. Karena itu adalah kewenangan Pak Jokowi yang nantinya akan menjadi end user dan yang kita butuhkan untuk memenangkan pertarungan 2019 ke depan dan menjaga irama kerja presiden sepanjang 5 tahun ke depan,” ujarnya.
Baca juga : Jokowi Kantongi 5 Nama Kandidat Cawapres
Adapun ke-6 partai politik yang dipastikan mengusung Jokowi di Pilpres 2019 adalah PDI-P, Nasdem, Hanura, Partai Golkar, PPP dan PKB. Mengenai apakah jumlah peserta koalisi akan bertambah atau tidak, menurut Romi tergantung dari kesepakatan partai-partai pengusung. Peluang menambah anggota koalisi masih terbuka.
Sementara itu Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar, masih yakin peluang dirinya menjadi pendamping Jokowi masih sangat besar. Karena itu, dalam setiap penjajakan komunikasi koalisi dengan Jokowi maupun partai pengusung lainnya, ia tetap mengusulkan Join (Jokowi-Cak Imin) untuk diusung dalam Pilpres 2019. “Masih join, tidak ada pilihan lain selain join. Belum ada antisipasi sebelum janur melengkung kita tetap join,” ujar Cak Imin, panggilan akrab Muhaimin Iskandar.
Dari kubu oposisi sampai Senin (16/7) belum ada kepastian siapa yang akan menjadi Cawapres Prabowo dalam Pilpres 2019 nanti. Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad, mengungkapkan bahwa pertemuan antara Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan dan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sohibul Iman pada Sabtu (14/7), membicarakan soal pembentukan koalisi pada Pilpres 2019. “Pertemuan itu sebenarnya diskusi yang mengarah pada koalisi untuk mendukung Prabowo sebagai presiden. Kalau itu saya pastikan betul ada diskusi seperti itu,” ujar Dasco.
Namun dia belum memastikan siapa Cawapres yang akan mendampingi Prabowo. Ketua DPP Partai Gerindra, Ahmad Riza Patria, menyatakan ada 7 kandidat calon wakil presiden pendamping Prabowo Subianto dalam Pilpres 2019, yaitu Ahmad Heryawan, Salim Segaf Al Jufri, Zulkifli Hasan, Anies Baswedan, Gatot Nurmantyo, Chairul Tanjung dan Muhaimin Iskandar. Dua nama terakhir juga menjadi kandidat Cawapres Jokowi. (trbn/kmp/wid)

Leave a Reply