Nahdlatul Ulama Membuka Pesantren Pertama di Jepang, Memperluas Dakwah Islam di Negeri Sakura

Pesantren Nahdlatul Ulama Jepang
Pesantren pertama Nahdlatul Ulama (NU) yang berlokasi di Kota Koga, Prefektur Ibaraki, Jepang telah diresmikan oleh Dubes RI untuk Jepang, pada Jumat 3 Mei 2024. (Dokumentasi PCINU Jepang)

JoSS, JAKARTA – Organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU), baru saja meresmikan pesantren pertamanya di Jepang, tepatnya di Kota Koga, Prefektur Ibaraki. Pendirian pesantren ini merupakan langkah strategis NU dalam memperluas nilai-nilai pendidikan dan dakwah Islam di Negeri Sakura yang notabene adalah negara dengan populasi Muslim minoritas.

Ketua PCINU (Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama) Jepang, Achmad Gazali, mengungkapkan bahwa proses pembelian dan pembebasan lahan untuk pesantren ini telah dimulai sejak awal tahun 2023. Lahan pesantren awalnya merupakan rumah dan tanah milik warga setempat yang kemudian dijual. Pembangunan pesantren pun dilakukan secara gotong royong oleh warga Indonesia di Jepang.

“PCINU Jepang sempat memberikan imbauan pada bulan Agustus 2023 kepada seluruh warga Nahdliyin di Jepang, khususnya pada hari Sabtu dan Minggu, untuk bergabung dalam kegiatan kerja bakti pembangunan pesantren,” jelas Gazali dikutip dari laman nu.or.id, Selasa, 7 Mei 2024.

Dalam pembangunannya, pesantren NU Jepang menyesuaikan dengan arsitektur tradisional Jepang. Struktur bangunan dan pemandangan di lingkungan pesantren sengaja dipertahankan agar selaras dengan budaya Jepang, sehingga keberadaannya dapat dengan mudah diterima oleh masyarakat lokal.

Sejumlah kegiatan telah mulai dilakukan di lokasi pesantren, antara lain Konferensi Cabang Istimewa (Konfercabis) PCINU Jepang pada September 2023 dan Lomba Cerdas untuk anak pada Maret 2024. Peresmian Pesantren NU juga diiringi dengan kegiatan Pendidikan Dasar Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PD-PKPNU) dan Pendidikan Menengah Kader Nahdlatul Ulama (PMKNU) yang diselenggarakan oleh PCINU Jepang.

Gazali menjelaskan bahwa peresmian pesantren dan kegiatan pengkaderan dilakukan secara bersamaan agar peserta pendidikan dapat merasakan semangat dan spirit kegiatan yang akan dilaksanakan di pesantren NU Jepang ke depannya.

Ketua PBNU, Masyhuri Malik, menyampaikan pesan kepada jemaah agar dapat menjaga Islam, khususnya ajaran Nahdlatul Ulama. “NU tidak butuh kita, kitalah yang butuh NU. Tentunya menjadi harapan kita semua nanti di akhirat kelak bahwa kita bisa berkumpul dengan orang-orang saleh, seperti Kiai Hasyim Asy’ari, pendiri NU,” ujar Masyhuri.

Duta Besar Republik Indonesia (Dubes RI) untuk Jepang, Heri Akhmadi, yang juga merupakan Mustasyar PCINU Jepang, menyampaikan bahwa pertumbuhan warga Indonesia, termasuk warga NU, di Jepang diperkirakan akan terus meningkat. Hal ini didukung oleh kebijakan Pemerintah Jepang yang membuka diri untuk menerima pekerja asing.

“Jumlah WNI di Jepang sekitar 120.000 orang di akhir Juni dan pada akhir tahun ini diperkirakan akan mencapai 160.000-170.000 orang,” ujar Heri yang juga merupakan Mustasyar PCINU Jepang.

Heri menyampaikan stilah pemagang akan dihilangkan dan diganti dengan program ikusei shuro (TG 0) dengan syarat bahasa diturunkan menjadi N5. Dari target sekitar 820.000 specified skilled worker selama lima tahun ke depan, kebanyakan tidak bermukim di kota besar, tetapi di kota-kota kecil.

Oleh karena itu, model pengembangan di daerah perdesaan sangat tepat dan hal itu merupakan kultur utama NU. Heri menyebut untuk mengembangkan basis NU di Jepang dapat dimulai dari desa setempat.

“Contohnya di Hokkaido, pada 2020 warga kita sekitar 800-900 orang. Sekarang ini, specified skilled worker atau tokutei ginou sudah mencapai 1.400 orang, begitu pula juga di Okinawa,” beber Heri.

Heri berharap melalui peresmian pesantren ini, komunitas dibangun dan gotong royong dapat dikembangkan. “Kalau ada tempatnya (pesantren), orang pasti datang,” ujar dia.

Dia mencontohkan berbagai kegiatan, seperti tempat untuk berlatih di masa-masa tertentu, seperti pesantren kilat di bulan puasa. “Pertama kali, Ramadan 2024 telah berhasil diadakan lomba wudu, adzan, menghafal surat pendek, kegiatan tersebut penting untuk putra putri kita yang ada di Jepang,” ujar Heri.

Dia juga mengucapkan selamat melaksanakan Pendidikan Dasar dari PBNU. Pihaknya berharap seluruh warga NU di Jepang yang mengikuti pendidikan tersebut selain memperoleh pendidikan dasar, dapat juga mempelajari dengan gotong royong membangun basis dakwah di masa yang akan datang.(RJ)

 

Baca Juga: Kampus Joss

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*