Jalan Sunyi WO Ngesti Pandawa, Melihat Rembug Keluarga Dinasti Ngesti Pandawa di Masa Vakum Kepemimpinan Ki Sastro Soedirdjo

Ilustrasi dibalik layar pagelaran WO Ngesti Pandawa | Foto: instagram ngesti_pandowo
Bambang Iss Wirya

Sepeninggal Sastro Soedirdjo yang wafat pada 1984 dimakamkan di TPU Bergota, pihak keluarga diingatkan agar masa vakum kepemimpinan jangan dibiarkan terlalu lama. Maka berdasarkan rembug keluarga dipilihlah anak ke empat yaitu Yuli Ismanto atau Cicuk untuk memimpin Ngesti menggantikan almarhum sang ayah.

Menurut Djoko Muljono (suami Siti Sarmini atau anak tertua Sastro Soedirdjo), ke enam putera puteri Sastro Soedirdjo itu merupakan pewaris sah Ngesti Pandawa.

Seperti melanjutkan tradisi keluarga ke enam putera puteri Pak Saisman itu beberapa diantaranya pernah menjadi pemain wayang, tapi tidak dilanjutkan karena satu dan lain ada yang menikah atau bekerja di tempat lain. Yang paling aktif sampai akhir hayat adalah Cicuk Sastro Soedirdjo adik ipar Djoko Muljono.

Sampai saat ini hanya ada dua cucu pewaris tradisi wayang yaitu Danu Saputra (sebagai pemain wayang) merupakan anak semata wayang Cicuk dan Mona Mariana (cucu). Yang terakhir ini sebagai penyandang dana untuk menyuplai biaya produksi setiap pekannya.

Rembug keluarga yang kedua terkait dengan pergantian kepemimpinan Ngesti Pandawa terjadi setelah Cicuk Sastro Soedirdjo wafat pada 2015. “Saat itu kami rapat keluarga untuk membahas siapa yang akan menggantikan pak Cicuk untuk memimpin Ngesti,” kata Djoko Muljono.

Tapi rupanya tidak ada respon dari kalangan anak-anak Sastro Soedirdjo, satu persatu mereka menolak untuk menerima tapuk kepemimpinan. Maka sebagai anak menantu paling mbarep (anak tertua), maka pilihan ada pada Djoko Muljono.

“Akhirnya saya jugalah yang dipilih oleh keluarga. Memang saya menyanggupi tapi dengan catatan harus ada pihak-pihak yang mendukung (merestui) saya, yaitu keluarga, Yayasan Ngesti Pandawa, dan para anggota,” kata Djoko.

Namun menyadari usianya yang tidak muda lagi, ia kembali mengajukan catatan bahwa kepemimpinannya ini sifatnya hanya sementara sambil menunggu munculnya figur yang cocok untuk memimpin Ngesti Pandawa. Tapi selama dua tahun berjalan menurut Djoko, figur yang diharap itu tampaknya juga belum terlihat.

“Ya, saya sudah tua. Meskipun saya akan memimpin Ngesti sambil menunggu orang yang cocok, tidak hanya saja dari keluarga Ngesti tapi bisa juga dari pihak luar,” begitu tegas Djoko Muljono.

Kejayaan Ngesti Pandawa yang saat ini masih tersimpan salah satu aset satu set gamelan lengkap. Mestinya, seperti dikatakan Danu Saputra (salah satu cucu Sastro Soedordjo atau anak Cicuk Sastro Soedirdjo) gamelan warisan itu sebelumnya ada dua. Tapi sekarang tinggal satu set yang disimpan di rumah Cicuk. Sedangkan satu set yang lain telah dijual.

Sedangkan gamelan yang sampai sekarang dipakai untuk operasional di TBRS adalah gamelan pinjaman  pemkot Semarang yang digunakan sejak tahun 2000.

Di dalam aula yang terletak di belakang rumah Cicuk itu tidak saja tersimpan gamelan tapi juga ada properti pementasan yang sudah tidak terpakai. Properti  pementasan itu antara lain Kaca Tansiku untuk rekayasa adegan malihan (berubah), dan beberapa lampu pentas.

Pimpinan WO Ngesti Pandawa dari masa ke masa

Ki Sastro Sabdo (1937 – 1966)

Ki Sastro Soedirdjo (1964 – 1984)

Ki Narto Sabdo (1984 – 1985)

Mashuri (1985 – 1996)

Sriani Sukarti Harsono (1996 – 2004)

Cicuk Sastro Soedirdjo (2004 – 2015)

Djoko Muljono SH (2015 – sekarang)

Baca juga: Jalan Sunyi WO Ngesti Pandawa, Tangan Dingin Ki Sastro Soedirdjo Yang Nyembadani

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*