Ini Rangkaian Acara ‘Tinggalan Jumenengan Dalem’ Keraton Jogja

Tinggalan Jumenengan
Keraton Yogyakarta | Foto: google

JoSS, JOGJA – Sepekan ke depan, masyarakat Jogja dan sekitarnya dapat menyaksikan sejumlah rangkaian acara peringatan ‘Tinggalan Jumenengan Dalem’ Keraton Jogja mulai 2-7 April 2019. Tahun ini, perayaan naik tahta Raja Jogja masuk usia ke 30 tahun Masehi.

Seperti diketahui, Sri Sultan Hamengku Buwono X naik tahta pada Hari Selasa Wage tanggal 29 Rejeb Wawu 1921 atau bertepatan dengan tanggal 7 Maret 1989. Beberapa acara telah dilakukan sepanjang Maret lalu, seperti Simposium Internasional Budaya Jawa dan Naskah Keraton Yogyakarta dan pameran naskah.

Seperti dikutip dari Kedaulatanrakyat.com, jika berdasarkan penanggalan Jawa, maka tahun ini Sri Sultan genap bertahta selama 31 tahun. Secara adat, peringatan kenaikan takhta Sri Sultan dikenal dengan istilah Tingalan Jumenengan Dalem. Akan ada serangkaian acara seperti Ngebluk, Ngapem dan puncaknya adalah Sugengan.

Selamatan (sugengan) digelar untuk memohon usia panjang Sultan, kecemerlangan tahta Sultan, dan kesejahteraan bagi rakyat Yogyakarta. Setelah sugengan kemudian digelar acara labuhan di beberapa petilasan yang dianggap sakral bagi Keraton Yogyakarta.

Sehari sebelum rangkaian acara dimulai, Keraton Yogyakarta juga akan menyelenggarakan peringatan Isro’ Mi’roj. Di Keraton Yogyakarta, peringatan hari besar Agama Islam tersebut dikenal dengan istilah Yasa Peksi Burak. Berikut keterangan lebih rinci terkait upacara-upacara adat dimaksud:

1. Yasa Peksi Burak (Selasa, 2/4 pukul 09:00 – 15:00)

Yasa Peksi Burak merupakan kegiatan membuat hiasan yang berbentuk seperti burung buraq, yaitu kendaraan Nabi Muhammad pada saat menerima perintah sholat. Hiasan dibuat dari kulit jeruk, buah dan bunga di area Keputren. Sore hari selepas Ashar, hiasan bunga dan buah akan dibawa ke Masjid Gedhe dalam acara doa bersama yang dilakukan oleh Kawedanan Pengulon.

2. Ngebluk (Rabu 3/4 pukul 09:00-11:00 WIB)

Ngebluk merupakan kegiatan membuat adonan apem. Bertempat di Bangsal Sekar Kedhaton, Ngebluk akan dipimpin Permaisuri atau Puteri Raja tertua. Proses pengadukan adonan apem (jladren) menimbulkan suara “bluk”, sehingga prosesi ini disebut Ngebluk.

Baca juga: Angkringan Yang Lagi Hits di Jogja, Ada Angkringan Tertua

3. Ngapem (Kamis, 4/4 pukul 09:00-18:00 WIB)

Ngapem merupakan prosesi membuat kue apem dibuat dibedakan menjadi dua ukuran, apem biasa/kecil dan apem besar (Apem Mustaka). Apem dibuat untuk acara sugengan yang maknanya berdoa seraya memohon ampunan.

4. Sugengan (Jumat, 5/4 pukul 08:00-11:00 WIB)

Tepat pada hari peringatan penobatan Sultan, diadakan acara Sugengan atau doa bersama yang dilaksanakan di Bangsal Kencana dengan didahului arak-arakan Abdi Dalem menyiapkan ubarampe Labuhan untuk disemayamkan di Gedhong Prabayeksa.

5. Labuhan (Sabtu 6/4pukul 08:00 – selesai)

Setelah prosesi sugengan, keesokan harinya diselenggarakan upacara Labuhan. Seluruh ubarampe yang telah dipersiapkan diarak dari Gedhong Prabayeksa menuju ke Bangsal Srimanganti untuk diberangkatkan ke masing-masing petilasan.

Utusan Dalem akan menyerahkan ubarampe Labuhan Parangkusuma akan diserahterimakan di Kecamatan Kretek Bantul, pada hari itu. Sementara itu, ubarampe Labuhan Merapi akan diserahterimakan di Kecamatan Depok dan Cangkringan, Sleman, sedangkan ubarampe Labuhan Lawu akan diserahterimakan di Kantor Sekda Karanganyar dan Kecamatan Tawangmangu keesokan harinya pada Minggu, (7/4). (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*