Rawan Bencana Sejumlah Daerah di Banjarnegara Diujicobakan Elwasi

Rawan bencana
Ilustrasi | Foto: google

JoSS, BANJARNEGARA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarnegara terus mengembangkan alat deteksi dini gerakan tanah Elwasi yang dibutuhkan untuk mendukung upaya pengurangan risiko bencana.

Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Banjarnegara, Andri Sulistyo mengatakan Elwasi merupakan singkatan dari Eling Waspada lan Siaga. Nama tersebut memiliki makna agar semua pihak mengingat bahwa mereka berada di daerah rawan bencana sehingga perlu kewaspadaan dan tetap harus siaga dalam mengurangi risiko bencana.

Dia menjelaskan inisiasi alat tersebut berawal dari banyaknya kejadian bencana tanah ambles dan longsor di Kabupaten Banjarnegara.

“Elwasi adalah alat deteksi dini gerakan tanah yang dibuat oleh seorang staf Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Banjarnegara, Sudarsono,” katanya seperti dikutip dari Antara.

Secara struktur kondisi morfologi, topografi dan geologi, kata dia, Banjarnegara merupakan daerah rawan bencana tanah longsor sehingga diperlukan alat deteksi dini pergerakan tanah sebagai upaya pengurangan risiko bencana.

“Pemasangan pertama Elwasi sangat bermanfaat sebagai deteksi pengaman relawan yang saat itu sedang melakukan kerja bakti pembersihan rumah terdampak longsor,” katanya.

Baca juga: Awas 6 Kelurahan Ini Rawan Longsor

Elwasi tersebut, kata dia, akhirnya terus dikembangkan dan diuji coba di beberapa wilayah, seperti di Desa Sirongge Kecamatan Pandanarum Banjarnegara ( 2017), Longsor Cisolok Sukabumi Jawa Barat (2018) dan di Desa Kebutuhjurang Kecamatan Pagedongan Banjarnegara (2019).

“Saat ini pengembangan Elwasi terus di tingkatkan dan disempurnakan oleh BPBD Banjarnegara sebagai salah satu alat deteksi longsor yang dibutuhkan masyarakat dalam mengurangi resiko bencana,” katanya.

Elwasi, tambah dia, juga masih dalam proses hak cipta yang nantinya dapat diproduksi secara massal untuk mendukung upaya mitigasi bencana yang efektif.

“Sistem kerja Elawasi dirangkai dengan sederhana tidak menggunakan detektor kemiringan, curah hujan dan kelembaban, hanya menggunakan basis detektor pergerakan tanah (extensometer) dengan ketelitian 5-10 centimeter sehingga tidak terlalu banyak peralatan yang dibutuhkan,” katanya.

Dia menambahkan Elwasi ini dapat dipasang pada jenis atau tipe longsoran rayapan (creep).
“Elwasi dapat dirangkai dalam waktu yang sangat singkat sehingga dapat dipasang untuk jenis atau tipe longsoran rayapan dan sebagai fungsi pengaman personel dalam operasi tanggap darurat maupun evakuasi,” katanya.

Elwasi, kata dia, memiliki desain portabel dan sangat mudah untuk dipindahkan ke titik lain atau disimpan bila tidak dibutuhkan. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*