
JoSS, SEMARANG – Teror pembakaran kendaraan bermotor di Kota Semarang masih berlanjut. Usai membakar belasan mobil, pelaku pembakaran kini menyasar sepeda motor.
Kejadiannya di rumah Diyono di Jalan Menoreh Timur II RT 3 RW 4, Kelurahan Sampangan, Kecamatan Gajahmungkur, Sabtu (2/2) pagi. Tiga unit sepeda motor yang terpakir di teras rumas jadi sasaran.
“Kejadiannya pagi, saat kumandang adzan subuh,” tutur anak Diyono bernama Adiyantoro (28) kepada JoSS.co.id di rumahnya.
Bermula dari Diyono yang tengah mencuci piring di ruang dapur. Ia sempat mendengar suara sepeda motor berhenti di depan rumah. Beberapa saat kemudian Diyono melihat nyala api dari teras depan rumah.
“Lampu teras padam karena dipasang pendeteksi panas. Sehingga kelihatan terang karena nyala api,” beber dia.
Spontan Diyono dan penghuni rumah lain terbangun dan bergegas keluar rumah untuk memadamkan api. Pemadaman dilakukan dengan alat seadanya. “Pakai ember dan selang air, bapak dibantu kakak dan saya,” tutur Adiyantoro.
Selang 20 menit kemudian, api benar-benar sudah padam. Setelah dilakukan pengecekan, dari empat motor yang terparkir di teras, tiga motor terjilat api. Yakni Honda Beat bernomor polisi H 5239 DJ, Supra H 6816 BG, dan Vario H 4444 ATG.
Sepeda motor Honda Beat mengalami kerusakan paling parah. Seluruh busa jok terbakar, juga sedikit melelehkan bodi bawah stang Beat. Sementar dua kendaraan lain hanya terbakar ringan. Sebuah jas hujan yang digunakan untuk menutup Beat dan Supra turut terbakar.
Baca juga: Teror Pembakaran Mobil, Korban : Saya Tidak Berpolitik
“Belum berani menghidupkan tiga motor itu, takutnya ada korsleting malah terbakar lagi,” ujarnya.
Adiyantoro menduga pelaku pembakaran menggunakan kain yang telah direndam minyak tanah. Kain tersebut kemudian dilempar dari luar ke arah teras dan membakar tiga motornya.
“Tidak ada bekas botol hanya kami sempat melihat ada kain terbakar. Dari bau kainnya seperti ada kandungan minyak tanah yang dicampur bahan lain,” ungkapnya.
Adiyantoro dan keluarga tidak menyangka jika motornya jadi korban pelaku teror. Sebab selama ini tidak pernah merasa ada persoalan dengan orang lain. Tidak juga menggeluti politik, tidak ada yang jadi pengurus maupun kader partai politik. “Kami tidak ada yang berpolitik mas,” tegas dia.
Ia berharap kasus tersebut segera dapat diungkap kepolisian. “Sudah sering terjadi dan sepertinya tidak melihat korbannnya. Ya meresahkan lah, semua kalangan masyarakat tentu resah dengan kejadian seperti ini,” tutup dia.
Kasus pembakaran mobil dan motor dengan sarana mirip molotov di Kota Semarang sudah terjadi sedikitnya 14 kali. Diantaranya, di Jalan Puspogiwang I Semarang Barat Jumat (4/1), Jalan Irigasi Kecamatan Tugu Selasa (8/1), Jalan Gaharu Utara Kecamatan Banyumanik Kamis (10/1), Jalan Ciliwung Raya Kamis (31/1).
Pembakaran motor juga terjadi di Perum Beringin Ngaliyan Senin (28/1). Sebelum di Sampangan, aksi serupa menimpa mobil di Jalan Genuk Karang Lo Kecamatan Candisari, Jumat (1/2).
Tak hanya di Semarang, di Kendal dan Kabupaten Semarang pun juga terjadi aksi sama. Di Kendal terjadi di tujuh lokasi yang beda, mulai 26 Desember 2018 hingga 14 Januari 2019. (Joy/lna)

Leave a Reply