Ganjar Pranowo Gembleng Banteng Muda Jogja di Kaliurang, Tegaskan Pentingnya Peran Gen-Z

Ganjar Pranowo gembleng Gen-Z dalam Kaderisasi PDI Perjuangan di Kaliurang. Simak pesannya soal kecemasan anak muda hingga ajaran Bung Karno!
Ganjar Pranowo saat menggembleng Banteng-Banteng Jogja dalam gelaran Kaderisasi Tingkat Pratama di Kaliurang, Yogyakarta, Sabtu, 23 Oktober 2026 malam. (Foto: Dok/PDI Perjuangan)

JOGJA, JOSS.CO.ID – Usai Ketua DPP PDI Perjuangan Djarot Saiful Hidayat, giliran Ganjar Pranowo hadir untuk menggembleng Banteng-Banteng Jogja dalam gelaran Kaderisasi Tingkat Pratama di Kaliurang, Yogyakarta, Sabtu, 23 Oktober 2026 malam. Melihat kader yang digembleng sebagian besar adalah Gen-Z, Ketua DPP PDI Perjuangan, tambah Ganjar Pranowo pun bersemangat.

Menurut Ganjar yang didampingi Sekretaris DPD PDI Perjuangan DIY Ian Kurnia dan Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Yogyakarta Eko Suwanto, bahwa salah satu fungsi partai politik adalah pendidikan politik kepada masyarakat dan kader, termasuk di dalamnya Gen-Z. Kader ditegaskannya hadir untuk mendengarkan dan memenuhi keinginan rakyatnya.

“Rekrutmen kader itu sendiri adalah untuk menciptakan kader kepemimpinan, bisa mengabdi sebagai legislatif, eksekutif, kepala daerah, bahkan jadi kades. Merekalah yang bisa mendengarkan dan memenuhi keinginan rakyat,” kata mantan Gubernur Jateng dua periode itu.

Ganjar Pranowo mengapresiasi, DPC PDI Perjuangan Kota Yogyakarta yang didukung DPD PDI Perjuangan DIY menggelar kaderisasi tingkat Pratama. “DPC PDI Perjuangan Jogja memang top,” ungkapnya.

Baca Juga: Ganjar Pranowo dan Anies Baswedan Bertemu di Jogja: Mengaku Obrolan Santai

Eko Suwanto menambahkan, kondisi Gen-Z di Kota Yogyakarta saat ini mencapai 69 ribu dengan rincian, usia 14-17 tahun sebanyak 25 ribu dan 17-24 tahun berjumlah 44 ribu.

Maka dengan kondisi ini, kata Ganjar menanggapi, partai politik harus menyesuaikan. “Pemilih potensial Generasi Z, bertanggung jawab kepada partai politik untuk memberikan penjelasan, sosialisasi, desiminasi agar mereka tahu berpolitik itu apa. Ada yang bilang, mengapa harus berpartai politik kalau itu koruptor. Nah inilah yang harus dijelaskan kepada mereka,” katanya, menjelaskan.

Untuk itu, partai politik sekarang harus mendengarkan suara mereka, bertanya kepada mereka tentang kecemasan-kecemasan mereka.

“Mereka ini setiap hari memegang gadget, bergulat dengan AI, tapi harus selalu diingatkan tentang kesantunan, adab, budi pekerti, agar nilai-nilai kemanusiaan, persahabatan tidak hilang. Di sisi partai politik untuk mendidik dan melatih mereka,” ucapnya memberi pesan.

Partai politik juga harus mengapresiasi peran dan kiprah Gen-Z dengan mendengarkan keluhan mereka tentang kecemasan masa depan. Hal ini akan membuat mereka tahu ternyata partai politik itu bisa membuat kebijakan politik untuk menjawab kecemasan-kecemasan itu.

“Kita ini kalau membantu kan sifatnya pribadi -pribadi, misalnya membantu anak miskin tidak sekolah, membantu siswa yang ijazahnya ditahan, kan pribadi. Tapi kalau berpartai politik, misalnya DPRD dan eksekutif, kita bisa merumuskan kebijakan untuk anggaran sekolah dan lainnya. Gen-Z perlu diajak diskusi tentang perspektif anggaran misalnya,” ujarnya.

Ganjar juha mengapresiasi, anak muda yang kini kritis, berteriak lantang tentang isu lingkungan, mulai dari sampah sampai kebakaran hutan. “Itu luar biasa ketika mereka teriak kebakaran hutan, isu lingkungan, teriaknya kenceng sekali,” unkapnya.

Terakhir Ganjar mengajak bagaimana melihat ajaran Bung Karno yang berjuang di masa-masa mudanya. Menurutnya, dalam konteks kebangsaan semua harus bersatu, membangun konsesualisme, membuat konsesnsus menjaga bangsanya, tujuannya adalah Indonesia, ada negosisasi, ada komunikasi, landasan ideologi itu yang diperlukan

“Kita bisa melihat Bung Karno muda, ada Bung Hatta, Tan Malaka, mereka berjuang sejak masa muda, mereka berdiskusi bersama, dengan satu tujuan untuk bangsa. Bung Karno itu dalam diskusi ada referensinya yakni ilmpu pegetahuan, suka membaca. Jadi tradisi membaca itu penting,” ujarnya, menambahkan.

Ganjar menambahkan, suara rakyat itu harus didengarkan. Karena partai politik itu sendiri adalah representasi dari rakyat.

“Jadi, mimpi Bung Karno itu harus diterjemahkan ulang, disesuikan dengan kondisi kekinian sehingga marhaneisme itu betul-betul bisa terwujud. Ketika kita sudah berada di jabatan politik, maka harus membela dan membantu yang lemah,” ujarnya, menyebutkan.

Sementara itu, Sekretaris DPD PDI Perjuangan DIY, Ian Kurnia mengatakan, bahwa kaderisasi itu suatu keharusan. Setelah Pendidikan tingkat Pratama DPC PDI Perjuangan Kota Yogyakarta, nanti akan disusul Sleman, Gunungkidul, Bantul dan Kulon Progo.

Sementara itu, Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Yogyakarta, Eko Suwanto menjelaskan, tentang sayangnya dipilihnya Kaliurang sebagai tempat penggemblengan kader Banteng-Banjeng Jogja.

Kaliurang sebagai tempat penggemblengan tak lepas dari sejarah tahun 1959, yakni Bung Karno pernah melakukan penggemblengan kader dalam Konferensi besar GMNI 17 Februari 1959.

Adapun judul Pidato Bung Karno saat itu adalah Lenyapkan Sterilitiet Dalam Gerakan Mahasiswa. Sebuah pesan penting tentang perjuangan.

“Ini sekaligus menghikmati sejarah Bung Karno, sejarah Ibu Megawati dan komitmen PDI Perjuangan berjuang untuk hak-hak rakyat. Pada tanggal 17 Februari 1959 di Kaliurang, Bung Karno sampaikan pesan, pertama, Nyalakan terus obor kesetiaan terhadap kaum Marhaen,” ujar Eko Suwanto yang juga Ketua Komisi A DPRD DIY ini.

Banteng-Banteng Muda Jogja terlihat begitu antusias mengikuti penggemblengan kaderisasi tingkat Pratama yang digelar di Kaliurang itu.

Sebanyak 64 kader militan PDI Perjuangan mengikuti kegiatan selama 23-25 ​​Oktober, yang menjadi bukti bahwa partai berlambang Banteng Moncong Putih itu tetap kokoh menjalankan fungsi kaderisasi guna mencetak kader yang melayani, memberdayakan, dan memperjuangkan hak-hak rakyat.

Baca Juga: Jumlah Pemilih Anak Muda Naik: Ganjar Pranowo Ungkap Strategi Kampanye Media Sosial PDIP

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*