Kemendag Optimis Target Ekspor 2025 Capai 7,1 Persen Meski Terancam Tarif AS

Menteri Perdagangan Budi Santoso

JOSS.CO.ID, Jakarta – Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan pemerintah tetap menargetkan pertumbuhan ekspor Indonesia sebesar 7,1 persen pada 2025, meskipun menghadapi potensi tantangan baru berupa tarif resiprokal sebesar 19 persen dari Amerika Serikat (AS).

Dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (4/8), Budi menegaskan bahwa tren positif kinerja ekspor semester pertama tahun ini menjadi dasar kuat dalam mengejar target tersebut.

“Kami sudah menghitung target ekspor nasional untuk periode 2025–2029. Tahun depan, kami menargetkan pertumbuhan ekspor sebesar 7,1 persen. Berbagai program strategis telah disiapkan untuk mencapainya,” ujarnya.

Hingga Juni 2025, surplus perdagangan Indonesia mencapai US$4,10 miliar. Secara kumulatif selama semester I-2025, neraca perdagangan mencatat surplus US$19,48 miliar, naik signifikan dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar US$15,58 miliar.

Surplus ini didukung oleh sektor nonmigas dengan nilai US$28,31 miliar, meski sektor migas masih mencatat defisit US$8,83 miliar. Total ekspor nasional semester pertama tercatat sebesar US$135,41 miliar, tumbuh 7,70 persen secara tahunan. Pertumbuhan ekspor tersebut terutama berasal dari ekspor nonmigas yang naik 8,96 persen, meskipun ekspor migas menurun 11,04 persen.

“Pencapaian ini memberi sinyal kuat bahwa target 7,1 persen sangat mungkin dicapai, mengingat saat ini pertumbuhan ekspor sudah 7,7 persen,” jelas Budi.

Amerika Serikat tercatat sebagai mitra dagang dengan surplus perdagangan terbesar bagi Indonesia, senilai US$9,92 miliar. Hal ini mencerminkan daya saing produk ekspor Indonesia tetap tinggi, meski skema tarif baru dari AS belum diterapkan.

“Ini menjadi indikator bahwa produk kita masih kompetitif. Jika nantinya tarif resiprokal diberlakukan, kita akan terus memantau dampaknya agar kinerja ekspor tetap stabil,” tambahnya.

Dari sisi sektoral, ekspor masih didominasi oleh industri pengolahan (83,81 persen), diikuti sektor pertambangan (13,53 persen) dan pertanian (2,64 persen). Menariknya, sektor pertanian mencatat lonjakan pertumbuhan tertinggi sebesar 49,77 persen, disusul industri pengolahan (16,57 persen). Sementara itu, sektor pertambangan mengalami kontraksi hingga 25,23 persen.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*