JOSS.CO.ID, Jakarta – Pemerintah resmi menghentikan penyaluran bansos 2025 kepada lebih dari 200 ribu penerima manfaat yang terindikasi menyalahgunakan bantuan untuk bermain judi online. Keputusan ini diambil usai Kementerian Sosial (Kemensos) memverifikasi data bersama Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).
“Dari hasil pemadanan data, ditemukan lebih dari 600 ribu penerima bansos yang juga terlibat transaksi judi online. Dari jumlah tersebut, 200 ribu orang telah kami hentikan bantuannya,” kata Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, Selasa (30/7/2025) di Istana Kepresidenan Jakarta.
Verifikasi dilakukan dengan mencocokkan 30 juta data penerima bansos dengan 9 juta data NIK yang terafiliasi judi online. Proses ini dilakukan atas persetujuan Presiden Prabowo Subianto.
Sementara itu, 300 ribu lebih penerima lainnya masih dalam tahap verifikasi. Jika terbukti, mereka juga akan dicoret dari daftar penerima pada triwulan ketiga 2025.
“Langkah ini bukan mengurangi kuota bantuan, tapi memastikan bantuan disalurkan tepat sasaran. Kuotanya akan dialihkan ke masyarakat yang lebih membutuhkan di kelompok desil 1 hingga 4,” tegas Gus Ipul.
Tak hanya itu, data PPATK juga mengungkap bahwa total 7,5 juta transaksi terkait judi online ditemukan dari rekening penerima bansos, dengan nilai fantastis mencapai Rp957 miliar.
Pada pertengahan 2025, Kemensos bersama PPATK mencocokkan 28,4 juta NIK penerima bansos dengan 9,7 juta NIK pemain judi online sepanjang 2024. Hasilnya, terdapat 571.410 NIK yang identik, menunjukkan bahwa 2% penerima bansos terbukti sebagai pemain judol tahun lalu.

Leave a Reply