‎Utang Paylater Tembus Rp 29,59 Triliun saat Lebaran, Milenial dan Gen Z Paling Boros ‎

Ilustrasi. (Foto: istimewa)
‎JOSS.CO.ID, Semarang – Selama momen Lebaran April 2024, total utang paylater di Indonesia mencapai Rp 29,59 triliun, sementara pinjaman online (pinjol) mendekati angka Rp 81 triliun. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat adanya lonjakan transaksi pembiayaan, terutama menjelang Idulfitri.

‎Agusman, Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan OJK, menjelaskan bahwa perusahaan pembiayaan menyalurkan paylater sebesar Rp 8,24 triliun pada April, naik tipis dari Rp 8,22 triliun di bulan sebelumnya (Ramadan). Namun, tingkat kredit macet (NPF) juga meningkat dari 3,48% menjadi 3,78%.

‎Sementara itu, bank-bank penyalur paylater melaporkan baki debet senilai Rp 21,35 triliun pada April, turun dari Maret yang tercatat Rp 22,78 triliun. Jumlah rekening aktif menurun tipis dari 24,56 juta menjadi 24,36 juta.

‎Pada sektor pinjaman online, total utang berjalan (outstanding) melonjak menjadi Rp 80,94 triliun, tumbuh 29,01% secara tahunan (year-on-year). Tingkat kredit macet lebih dari 90 hari atau wanprestasi juga naik, dari 2,77% di Maret menjadi 2,93% di April.

Agusman menegaskan, pola peningkatan ini konsisten dengan tren tahunan.

“Penyaluran pembiayaan BNPL (Buy Now Pay Later) dan pinjaman daring selalu meningkat menjelang Ramadan dan Lebaran,” ujarnya saat konferensi pers daring, Senin (2/6).

‎Riset Pefindo Biro Kredit (IdScore) juga menunjukkan bahwa generasi muda mendominasi penggunaan paylater. Pengguna dari kalangan Milenial mencapai 48,27%, disusul Gen Z sebesar 39,94%, dan Gen X sebanyak 11,35%. Rata-rata satu debitur memiliki tiga fasilitas kredit.

‎Dalam rincian penggunaan, 41,9% transaksi paylater dilakukan lewat QRIS dan platform lainnya, diikuti belanja di e-commerce (33%), pembelian tiket dan hotel (21,1%), serta pembelian langsung di toko fisik, terutama produk elektronik.

‎OJK mendorong masyarakat untuk menggunakan layanan keuangan digital secara bijak, mengingat tren pertumbuhan yang tinggi ini beriringan dengan meningkatnya risiko kredit bermasalah.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*