JOSS.CO.ID, Semarang – Pemerintah Kota Semarang terus mendorong pengurangan sampah dari sumbernya dengan menambah jumlah Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) di kawasan permukiman. Langkah ini diambil untuk mengurangi volume sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, menyatakan bahwa keberadaan TPS3R sangat penting sebagai solusi pengelolaan sampah skala lingkungan. Ia optimistis, jika TPS3R terus diperbanyak dan dikelola dengan baik, Kota Semarang akan menjadi lebih bersih.
“Ini yang kita harapkan bisa tumbuh di setiap lingkungan. Memang belum banyak, tapi kalau jadi contoh, saya yakin masyarakat akan meniru,” kata Agustina saat meninjau TPS3R Pedalangan, Banyumanik, Senin (7/4/2025).
Saat ini, Kota Semarang memiliki 23 titik pengolahan sampah. Rinciannya, 18 TPS3R berbasis masyarakat, dua dikelola oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang, serta tiga Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) berskala kota, yaitu TPST Undip, TPST Unnes, dan TPST BSB.
Pemkot juga memanfaatkan dana Rp25 juta per RT per tahun untuk memperluas program gotong royong membangun lingkungan bersih, dimulai dari tingkat kampung. TPS3R Pedalangan dinilai layak menjadi model bagi wilayah lain.
“TPS3R ini bisa kami dorong untuk jadi pusat edukasi bagi lingkungan lain,” tambahnya.
TPS3R Pedalangan sudah mempraktikkan sistem pemilahan sampah yang baik. Sampah organik diolah menjadi pupuk kompos untuk digunakan di pekarangan warga. Sementara itu, sampah anorganik seperti plastik dan kertas dipilah lalu dijual ke pengepul.
“Pupuknya langsung dipakai warga. Sementara plastik dan kertas diangkut pengepul,” jelas Agustina.
Fasilitas TPS3R Pedalangan dilengkapi mesin press untuk mengurangi volume sampah anorganik dan mesin pencacah serta pengayak untuk pengolahan kompos. Dari total produksi sampah sekitar 6 meter kubik per hari, TPS3R ini mampu mengurangi hingga 4 meter kubik setiap harinya.
Selain TPS3R, Wali Kota juga meninjau Bank Sampah Sakura Pedalangan, yang dikelola warga RW 3 Kelurahan Pedalangan.
Sri Mulyana, pengurus Bank Sampah Sakura sekaligus tokoh Program Kampung Iklim (ProKlim), menyambut positif kehadiran Wali Kota.
“Dengan beliau melihat langsung kondisi lapangan, masyarakat akan makin semangat memilah dan mengelola sampah,” ujarnya.
Sri menambahkan bahwa bank sampah yang aktif sejak 2019 itu masih membutuhkan peningkatan kapasitas dan bantuan sarana untuk mendukung operasional.
“Kami butuh pelatihan dan tambahan fasilitas agar bank sampah ini bisa berkembang dan memberi dampak lebih luas,” katanya.

Leave a Reply