JOSS.CO.ID, Semarang – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng) menggandeng sebanyak 18 perusahaan untuk menampung ribuan buruh korban pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang sebelumnya bekerja di PT Sri Rejeki Isman Tbk atau Sritex.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Jateng Sakina Rosellasari memastikan, PHK massal yang terjadi di Sritex Grup tidak akan mengganggu iklim investasi di Jateng.
Sembari menunggu investor untuk mengambil alih manajeman Sritex, Pemprov Jateng telah berkoordinasi dengan 18 perusahaan yang berpeluang akan menampung puluhan ribu buruh korban PHK.
Berdasarkan koordinasi dengan Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans), 18 perusahaan tersebut bergerak di sektor industri tekstil, garmen, rokok, alas kaki, dan usaha lainnya.
“Terinfo kalau dari Disnakertrans ada 18 perusahaan, tekstil sama garmen beberapa, ada sektor rokok, plastik sepatu dan jenis usaha lainnya seperti retail, yang terbesar tekstil dan garmen,” ungkap Sakina.
“Itu di daerah Sukoharjo, Wonogiri, kemudian Boyolali, Karanganyar, Surakarta, sekitar itu,” imbuhnya yang juga mantan Kepala Disnakertrans Jateng.
Lebih lanjut dia mendorong perusahaan yang menyediakan lowongan pekerjaan mengutamakan merekrut korban PHK. Hal ini guna mencegah bertambahnya angka pengangguran di Jawa Tengah.
“Kami berharap ketika memang ada rekrutmen atau lowongan pekerjaan, menurut kami yang diutamakan adalah korban PHK
yang tentunya memenuhi kriteria kompetensinya, harapannya seperti itu,” beber Sakina.
PT Sritex beserta tiga anak usahanya, yakni PT Primayudha Mandiri Jaya, PT Sinar Pantja Djaja, dan PT Bitratex Semarang, resmi tutup pada 1 Maret 2025 usai dinyatakan pailit. Penutupan bisnis raksasa tekstil di Asia ini membuat 10.965 buruh terkena PHK.

Leave a Reply