JoSS, JAKARTA – Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan ingin mengubah minyak jelantah menjadi bahan bakar pesawat atau sustainable aviation fuel (SAF) di Indonesia.
Langkah ini diambil sebagai upaya untuk mengurangi emisi karbon akibat aktivitas penerbangan yang semakin meningkat di tanah air.
“Seiring meningkatnya aktivitas penerbangan, emisi karbon yang dihasilkan juga akan terus bertambah. Oleh karena itu, intervensi untuk mengurangi emisi karbon menjadi penting,” ungkapnya.
Dalam rapat Rancangan Peta Jalan dan Rencana Aksi Nasional Pengembangan Industri SAF yang dipimpin oleh Luhut, mengungkapkan bahwa pengembangan industri SAF sangat penting mengingat proyeksi Indonesia akan menjadi pasar aviasi terbesar keempat di dunia dalam beberapa dekade ke depan.
Dengan perkiraan kebutuhan bahan bakar mencapai 7.500 ton liter hingga tahun 2030, Indonesia perlu mencari solusi yang ramah lingkungan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Minyak jelantah atau used cooking oil dipilih sebagai salah satu bahan baku SAF karena ketersediaannya yang melimpah.
Indonesia memiliki potensi pasokan satu juta liter minyak jelantah setiap tahun, di mana sebagian besar diekspor ke negara lain. Dengan memanfaatkan minyak jelantah sebagai bahan bakar pesawat, diharapkan dapat mengurangi emisi karbon.
“Pernahkah terpikirkan bahwa minyak jelantah atau used cooking oil dapat menjadi bahan bakar untuk industri aviasi atau penerbangan? Hal ini ternyata sudah lumrah dilakukan di beberapa negara tetangga kita, seperti Malaysia dan Singapura,” ujar Luhut dalam akun resmi Instagram @luhut.pandjaitan, Rabu (29/5).
Pengembangan industri SAF juga diprediksi dapat menciptakan keuntungan yang signifikan bagi Indonesia.
Diperkirakan penjualan SAF baik secara domestik maupun ekspor dapat mencapai lebih dari Rp12 triliun per tahun, serta membuka peluang investasi kilang biofuel dari pihak swasta maupun BUMN.
Luhut juga mengungkapkan bahwa Pertamina telah melakukan uji coba statis SAF untuk digunakan pada mesin jet CFM56-7B yang menunjukkan bahwa produk mereka layak digunakan pada mesin jet komersial.
Dengan demikian, Indonesia akan memasuki era penerbangan ramah lingkungan dengan adopsi SAF sebagai bahan bakar pesawat.
“Hal ini membuktikan bahwa produk mereka layak digunakan pada pesawat komersil,” katanya.(RJ)
Baca Juga: 400 Anak Muda Indonesia Sukarela Berkontribusi di GovTech INA Digital
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS

Leave a Reply