Kota Semarang Hadapi Tantangan Serius, Produksi Sampah 1.000 Ton Perhari

Sampah Kota Semarang
Ilustrasi, Tempat Pembuangan Akhir (mlse1969/GettyImages)

JoSS, SEMARANG – Kota Semarang, Jawa Tengah, menghadapi tantangan serius dalam mengelola sampah dengan produksi harian mencapai 1.000 ton. Mayoritas sampah ini akhirnya berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan hanya sebagian kecil yang dikelola oleh masyarakat.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang, FX Bambang Suranggono, mengungkapkan bahwa produksi sampah mencapai 1.000 ton per hari sejak pandemi Covid-19. Sekitar 70 persen dari jumlah ini berakhir di TPA, sementara hanya 30 persen yang berhasil dikurangi melalui partisipasi masyarakat.

“Jadi jumlah sampah setelah pandemi Covid-19 sekitar 1.000 ton sehari. Sekitar 70 persen dibawa ke tempat pembuangan akhir. Sedangkan 30 persen pengurangan sampah lewat masyarakat,” ujar Bambang, Senin (4/9/2023), seperti dikutip dari solopos.com.

Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu, mendorong masyarakat untuk lebih memanfaatkan sampah, khususnya sampah organik dari rumah tangga dan pasar. Menurutnya, sampah organik dapat diubah menjadi eco enzyme yang dapat membantu mengurai sampah.

“Di pasar itu banyak yang sampah organik. Itu bisa jadi eco enzyme, bisa mengurai sampah. Eco enzyme kan manfaatnya seperti itu, bisa mengurangi sampah,” kata Ita.

Baca Juga: Kekeringan di Semarang Makin Meluas, Lebih dari 3.000 Keluarga Terdampak

Dalam upaya penanganan sampah, Pemkot Semarang telah melakukan studi banding ke Cirebon, Jawa Barat, dengan rencana untuk mengolah sampah menjadi briket. Hal ini diharapkan dapat mengurangi sampah dari rumah tangga, pasar, dan TPA.

“Kemarin kami studi banding ke Cirebon untuk membuat semacam briket sehingga ini bisa menjadi mengurangi sampah rumah tangga, pasar dan di TPA-nya,” jelasnya.

Selain itu, Hevearita Gunaryanti Rahayu juga akan mengadakan lomba program kebersihan di kelurahan-kelurahan. Tujuannya adalah mengajak masyarakat untuk berpartisipasi dalam menjaga kebersihan lingkungan mereka dan mengelola sampah dengan baik.

“Kami juga sedang mengonsep lomba kebersihan antarkelurahan. Tapi tidak terus membuang di tetangga kelurahan, tapi bagaimana bisa mengolah sampahnya,” imbuhnya.

Ita berharap dengan pengelolaan sampah yang tepat, akan memberikan manfaat besar bagi masyarakat Kota Semarang. Ia juga menegaskan pentingnya mencegah Kota Semarang menjadi daerah dengan status darurat sampah, seperti beberapa daerah lainnya. Semua pihak perlu bertanggung jawab dalam mengatasi masalah sampah ini.

“Kita lihat di daerah-daerah lain ini sudah darurat sampah. Jangan sampai [Kota Semarang] ikut-ikut,” pungkasnya. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*