
JoSS, SEMARANG – Ketua DPRD Provinsi Jawa Tengah, Sumanto, mengajak Penjabat (Pj) Gubernur Nana Sudjana untuk berkolaborasi dengan legislatif dan pemerintah kabupaten/kota, terutama dalam sektor pendidikan dan pertanian, yang berkaitan erat dengan peningkatan pendapatan masyarakat di wilayah Jateng.
Menurut Sumanto, Pj Gubernur memiliki peran penting sebagai wakil pemerintah pusat di daerah, sehingga perlu adanya kolaborasi yang baik antara Pj Gubernur, DPRD, dan pemerintah di 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah.
Saat ini, Sumanto menjelaskan bahwa Pemerintah Provinsi dan DPRD Jateng sudah mulai merancang struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). “Melalui APBD ini, Pj Gubernur Jateng bersama timnya dapat melanjutkan pembangunan yang telah dimulai di bawah kepemimpinan Gubernur sebelumnya, Ganjar Pranowo. Ke depan, kita harus meningkatkan kualitasnya,” ujar Sumanto, dikutip dari Antara.
Salah satu sektor yang harus mendapatkan perhatian khusus adalah pendidikan. “Pj Gubernur perlu melanjutkan program-program pendidikan yang sudah ada. Salah satu program yang telah dicanangkan oleh Pemerintah Provinsi dengan dukungan DPRD Jateng adalah pendirian tiga Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri di Jateng yang berkonsep ‘boarding school’ untuk siswa kurang mampu berprestasi,” ungkap Sumanto.
Baca Juga: Kumpulkan 35 Kepala Daerah se-Jateng, Nana Sudjana Bahas Pemilu Hingga Harga Beras
Dalam konsep tersebut, siswa kurang mampu dapat mengenyam pendidikan secara gratis di sekolah tersebut, dan lulusan dari sekolah ini sangat diminati oleh perusahaan-perusahaan ternama.
Keberadaan “boarding school” semacam ini telah mendapatkan apresiasi dari Presiden Jokowi, yang bahkan berencana untuk menerapkannya secara nasional. Sumanto menyatakan bahwa kedepannya, Pemerintah Provinsi bersama DPRD Jateng berencana untuk menambah jumlah “boarding school” di Jateng menjadi 15 sekolah.
Selain pendidikan, Sumanto juga menyoroti potensi besar Jateng di bidang pertanian. Menurutnya, Jawa Tengah sudah lama dikenal sebagai provinsi penyangga pangan nasional kedua setelah Jawa Timur. Bahkan pada tahun 2019 dan 2020, Jateng menjadi produsen beras terbesar di Indonesia, mengungguli Jawa Timur.
“Kita menjadi penyangga pangan nasional kedua, dan ini bukan tanpa alasan. Jateng memiliki potensi yang besar dalam pertanian,” kata politisi asal Kabupaten Karanganyar ini.
Untuk itu, Sumanto menekankan bahwa upaya untuk mengembangkan potensi pertanian di Jateng merupakan tugas bersama. Saat ini, Komisi B DPRD Jateng sedang menggarap Peraturan Daerah (Perda) tentang Penguatan dan Pengembangan Sektor Pertanian, terkait peran Jateng sebagai lumbung pangan nasional.
Sektor pertanian, lanjutnya, perlu mendapatkan perhatian lebih lanjut karena pangan akan menjadi masalah serius di masa depan. Ia mencatat bahwa impor beras saat ini menjadi lebih sulit karena negara-negara pengekspor beras seperti Thailand, Vietnam, dan India, lebih berhati-hati dalam menghitung cadangan pangan mereka.
“Saat ini, impor beras sudah masuk dalam daftar tunggu, sehingga penting untuk terus memperkuat kemandirian pangan kita,” tambahnya.
Dalam hal keamanan dan stabilitas wilayah, yang menjadi prioritas Pj Gubernur Nana Sudjana, Sumanto menyatakan bahwa kondisi Jateng saat ini masih tergolong kondusif. Meskipun demikian, ia mengingatkan agar tetap waspada meskipun belum ada ancaman serius di Jateng.
“Sejak Pemilu 1955, tidak terjadi gangguan berarti di Jateng, dan ini bukan alasan untuk lengah. Kita harus tetap waspada,” pungkasnya. (lna)

Leave a Reply