
JoSS, MAROKO – Gempa bumi berkekuatan 6,8 skala Richter yang melanda Maroko pada Jumat (8/9/2023) pukul 23:14 waktu setempat telah meninggalkan dampak yang menghancurkan, dengan jumlah korban terus meningkat.
Pada hari Rabu (13/9/2023) waktu Indonesia Barat (WIB), data terbaru berdasarkan laporan korban, mencatat bahwa jumlah korban meninggal akibat gempa ini telah mencapai angka 2.900 orang, sementara lebih dari 5.500 orang melaporkan diri mereka terluka.
Gempa ini telah menjadi yang terburuk dalam lebih dari 60 tahun terakhir di negara Afrika Utara ini, dan penduduk setempat yang kehilangan tempat tinggal mereka merasa semakin frustrasi dengan respons tanggap darurat yang terbatas.
Mehdi Ait Bouyali (24) adalah salah satu dari mereka yang terpaksa menghabiskan empat malam di sepanjang Tizi N’Test, sebuah jalan yang menghubungkan Marrakesh ke lembah pedesaan terpencil.
Bersama dengan orang lain yang menjadi korban, mereka bermalam di pinggir jalan karena kurangnya bantuan dari pemerintah. Mereka mengatakan bahwa jika bukan karena makanan dan selimut dari orang asing yang lewat, mereka tidak akan memiliki apa-apa.
Baca Juga: Gempa Maroko Rusak Masjid Bersejarah Dari Abad ke-12, Korban Jiwa Lebih dari 2.000 Orang
“Desa-desa di lembah telah hancur. Kami memerlukan bantuan apa pun. Kami memerlukan tenda,” pintanya, dikutip VOA.
Meskipun ada pernyataan dari juru bicara pemerintah, Mustapha Baitas, yang membantah tuduhan ketidak responsif, banyak yang merasa bahwa bantuan tidak mencukupi, terutama di daerah terpencil yang sulit diakses karena tanah longsor. Rumah-rumah yang terbuat dari tanah liat telah runtuh menimpa penghuninya, meningkatkan tingkat kerusakan yang parah di beberapa daerah.
Tim penyelamat, termasuk beberapa yang datang dari negara-negara seperti Qatar, Uni Emirat Arab, Inggris, dan Spanyol, telah berusaha membangun tenda-tenda dan mengirimkan pasokan makanan dan air ke daerah-daerah yang terisolasi. Namun, tantangan tetap besar, terutama di daerah terpencil yang aksesnya terhambat oleh reruntuhan dan tanah longsor.
Hamid Ait Bouyali (40), yang juga bermalam di pinggir jalan bersama Medhi, menggambarkan kehancuran yang mereka lihat di daerah terdampak. “Pihak berwenang berfokus pada warga yang lebih besar dan bukan pada desa-desa terpencil yang terkena dampak paling parah,” katanya. “Ada beberapa desa yang masih memiliki jenazah yang terkubur di bawah reruntuhan.”
Warga setempat juga berusaha membantu sesama dalam menghadapi situasi yang sulit ini. Brahim Daldali (36), dari Marrakesh, telah menggunakan sepeda motornya untuk mengirimkan pasokan penting kepada mereka yang terkena dampak paling parah. “Mereka tidak punya apa-apa, dan rakyatnya kelaparan,” ujarnya.
Sementara sebagian besar kota tua Marrakesh selamat dari kerusakan, beberapa bagian mengalami kerusakan, termasuk bangunan tempat Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia akan mengadakan pertemuan pada bulan Oktober. Meskipun gempa bumi ini telah mengguncang Maroko secara luas, pemerintah belum merencanakan penjadwalan ulang acara tersebut. (lna)

Leave a Reply