Mahasiswa UNSOED Mengajarkan Cara Mengubah Limbah Organik Menjadi Eco-Enzyme untuk Pengendalian Serangga Hama

Limbah Eco-Enzyme
Mahasiswa UNSOED mengajarkan cara mengubah limbah organik menjadi eco-enzyme untuk pengendalian serangga. (foto: unsoed.ac.id)

JoSS, BANYUMAS – Pandemi Covid-19 telah menginspirasi masyarakat untuk mengembangkan minat baru, salah satunya adalah bertanam. Namun, tantangan muncul ketika tanaman yang dirawat dengan penuh kasih sayang terancam oleh serangan serangga hama. Masalah ini terjadi di Desa Karangsalam Kidul, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, yang terletak di perumahan Sapphire Regency, Jl. KS Tubun, Purwokerto Barat.

Di samping serangga hama, masalah lain juga muncul, yakni pembuangan dan pengolahan sampah organik yang dihasilkan oleh ibu-ibu PKK dari rumah tangga, mencapai 5 kg/rumah per hari. Kehadiran para kolektor sampah yang tidak konsisten dalam mengambil sampah juga menyebabkan penumpukan limbah. Hal ini memberi celah bagi serangga-serangga seperti kecoa, lalat, dan semut untuk berkembang biak. Serangga-serangga ini bukan hanya merugikan kesehatan, ekonomi, dan estetika, tetapi juga menimbulkan dampak negatif secara luas.

Merupakan inisiatif lima mahasiswa dari Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED), yaitu Raihanah Alya Zahra, Anisa Permata Aulia, Khofifah Noor Fatihah, Jumia Rosiyani, dan Shidqi Ryza Nugraha, yang tergabung dalam jurusan Biologi, untuk mengatasi masalah limbah dan serangga hama di perumahan tersebut.

Upaya solusi yang mereka usulkan adalah mengubah sampah organik menjadi produk bernilai tinggi, khususnya dalam bentuk eco-enzyme yang berfungsi sebagai insektisida alami untuk mengendalikan serangga hama.

Baca Juga: Unsoed Mulai Membangun Gedung Pendidikan Fakultas Peternakan

Ketua tim, Raihanah Alya Zahra, menjelaskan bahwa program ini memiliki tujuan yang lebih luas selain penanganan masalah sampah dan serangga hama. Tujuan-tujuan tersebut melibatkan peningkatan pemahaman mengenai pengolahan dan daur ulang sampah, memberikan edukasi tentang serangga hama beserta dampaknya bagi masyarakat dan cara penanggulangannya, serta mengevaluasi efektivitas pelatihan dan pemantauan untuk meningkatkan pengetahuan mengenai eco-enzyme sebagai insektisida alami.

“Eco-enzyme adalah cairan hasil fermentasi limbah organik seperti buah-buahan, sayuran, batang sayur, dan komponen organik lainnya. Keuntungan dari eco-enzyme terbagi menjadi beberapa aspek, termasuk aplikasi dalam pertanian (sebagai pupuk organik cair, pestisida nabati, insektisida nabati), kesehatan (sebagai desinfektan, cairan pembersih), dan kebutuhan rumah tangga (sebagai pengganti sabun mandi, pembersih lantai, obat kumur). Namun, dalam program ini, fokus utama tim adalah pemanfaatannya sebagai insektisida alami,” jelasnya.

Saat ini, program pelatihan ini telah mendapatkan dukungan dana dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai bagian dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2023. Dosen pembimbing, Dr. Trisnowati Budi Ambarningrum, M.Si., berharap bahwa gagasan kreatif ini akan memotivasi generasi muda dan masyarakat secara keseluruhan untuk mengolah limbah organik, baik yang dihasilkan sendiri maupun oleh orang lain.

Lebih lanjut, Raihanah menjelaskan bahwa bahan-bahan alami seperti kulit jeruk dan sereh digunakan sebagai bahan dasar untuk eco-enzyme yang berfungsi sebagai insektisida alami. Kedua bahan ini tidak disukai oleh serangga karena mengandung senyawa kimia yang beracun bagi semut, nyamuk, lalat, dan serangga lainnya. Proses pembuatan eco-enzyme menggunakan formula dengan perbandingan tertentu, melibatkan air bersih, sisa sayuran atau kulit buah-buahan, dan gula merah. Khususnya dalam pembuatan insektisida, perbandingan yang digunakan adalah MES 1 kg, garam krosok/garam teknis 750 gram, dan eco-enzyme sebanyak 4 liter.

“Keunggulan lain dari eco-enzyme adalah tidak memerlukan lahan luas seperti pada proses pembuatan kompos, bahkan tidak membutuhkan wadah khusus. Eco-enzyme bisa diolah dalam botol-botol bekas, sehingga pengolahan limbah menjadi lebih efisien. Konsep penggunaan ulang juga didukung dalam hal ini,” tambahnya, seperti yang dilansir dari unsoed.ac.id.(lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*