Ulah Pemilik Menggelar Pesta Perkawinan Anjing Gunakan Pakaian Adat Jawa Berujung Somasi

Jojo dan Luna Anjing Pakaian Adat Jawa
Jojo dan Luna, sepasang Anjing Husky yang menikah (Instagram/@undercover.id)

VIRAL di media sosial, di Jakarta Utara, pernikahan mewah dua ekor anjing ras Alaskan Malamute bernama Jojo dan Luna, yang dilaksanakan di Pantai Indah Kapuk (PIK), mendadak menjadi sorotan masyarakat. Kedua anjing itu tampil mengenakan pakaian adat Jawa dalam acara tersebut.

Namun, yang seharusnya menjadi momen lucu dan unik malah menimbulkan kontroversi. Sebagian orang menilai acara tersebut merendahkan adat Jawa, sehingga pemilik Jojo dan Luna, Valentine Cahandra (Valen) dan Indira Ratnasari (Nena), mendapatkan somasi.

Valen dan Nena awalnya bermaksud merayakan ulang tahun dua anjing kesayangan mereka dengan konsep seperti parade budaya yang menghadirkan tamu dengan pakaian adat dari berbagai daerah di Nusantara. Namun, tanpa disadari, konsep tersebut salah diinterpretasikan dan menuai kritik dari sebagian masyarakat.

Keduanya pun menyampaikan permohonan maaf kepada budayawan Jawa dan masyarakat atas kegaduhan yang terjadi. Mereka menegaskan bahwa tidak ada niatan melecehkan atau tidak menghargai budaya Jawa, karena sebenarnya mereka berdua adalah orang Jawa yang lahir di Yogyakarta.

“Dari awal kami ingin melestarikan adat Jawa dan mengangkat budaya tersebut, tetapi kami menyadari bahwa cara kami dalam merayakan ulang tahun anjing mungkin kurang tepat dan menyinggung perasaan orang lain,” kata Valen dan Nena.

Baca Juga: Dijuluki Jadi Pengemis Terkaya, Pria Di India Ini Memiliki Kekayaan Sekitar Rp14 Miliar dan Bisnis Property

Kendati demikian, mereka mengaku telah memahami kesalahan mereka setelah mendapat somasi terkait pakaian adat Jawa yang digunakan oleh Jojo dan Luna. Mereka menyatakan rasa penyesalan dan berkomitmen untuk tidak mengulangi kejadian serupa.

Masyarakat di media sosial pun memberikan beragam respons atas peristiwa tersebut. Beberapa mendukung permohonan maaf Valen dan Nena, menganggap bahwa kesalahan tersebut mungkin tidak disengaja. Namun, ada juga yang tetap mempertanyakan keputusan mereka untuk mengenakan pakaian adat Jawa pada dua anjing mereka.

“Kami meminta permohonan maaf atas kegaduhan di masyarakat, kami mohon maaf ke budayawan jawa dan masyarakat, sedikitpun tidak ada niatan dari kami untuk melecehkan (adat Jawa), kami berjanji tidak akan mengulangi lagi,” ungkap Valen dan Nena di kawasan Jakarta Selatan, pada Rabu (19/7).

“Ini sebenarnya ulang tahun cuman ingin diadakan kaya pernikahan, saya sama Valen ini kan temanan lama, sama sekali nggak ada maksud menyalahgunakan. Kita lebih ke parade budaya, tema nusantara, ada pakai baju adat macam-macam, kaya parade budaya Kartinian, bedanya ada di acara Jojo dan Luna, tapi mungkin cara kita yang salah,” sambung mereka.

Peristiwa ini mengajarkan pentingnya sensitivitas dan pemahaman terhadap berbagai budaya dalam menyelenggarakan acara. Meskipun perayaan ulang tahun tersebut awalnya memiliki niat positif untuk melestarikan budaya Jawa, penting bagi kita semua untuk lebih berhati-hati dan memastikan bahwa konsep acara tidak menyinggung perasaan atau merendahkan nilai budaya suatu masyarakat.  (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*