
JoSS, INDIA – Kecelakaan kereta api di India yang terjadi pada Sabtu (3/6/2023), dan menewaskan 275 penumpang diduga kuat disebabkan oleh kegagalan sistem manajemen jalur elektronik.
Dalam pengarahan pertama mereka mengenai kecelakaan tersebut pada Minggu malam, 4 Juni 2023, pejabat Kereta Api India menjelaskan bahwa kegagalan sistem manajemen lintasan menjadi fokus utama penyelidikan.
Sistem manajemen jalur yang dikendalikan oleh komputer, yang dikenal sebagai “sistem interlocking“, seharusnya mengarahkan kereta ke jalur yang kosong saat terjadi pertemuan antara dua jalur.
Menurut Sandeep Mathur, direktur eksekutif utama untuk persinyalan, sistem ini juga bertugas mengoordinasikan dan mengontrol sinyal untuk kereta yang sedang berjalan, menunjukkan apakah kereta tersebut harus melaju lurus atau beralih ke jalur baru.
“Seharusnya sistem ini bersifat anti-rusak dan anti-kesalahan. Sistem ini dikenal sebagai sistem fail-safe, yang berarti jika terjadi kegagalan, sinyal akan menyala merah dan kereta akan berhenti,” ungkap Jaya Varma Sinha, anggota Dewan Perkeretaapian yang menjalankan monopoli kereta api di India. Namun, diduga ada masalah dalam sistem tersebut, dikutip dari Reuters.
Sinha menjelaskan urutan peristiwa yang menyebabkan kecelakaan di stasiun Bahanaga, distrik Balasore. Kereta Coromandel Express yang sedang dalam perjalanan dari Kolkata menuju Chennai keluar dari jalur utama dan memasuki jalur melingkar, yang seharusnya digunakan untuk memarkir kereta, dengan kecepatan tinggi mencapai 128 km per jam. Akibatnya, kereta Coromandel Express menabrak kereta barang yang sedang diparkir.
Tabrakan tersebut menyebabkan lokomotif dan empat atau lima gerbong pertama dari Coromandel Express keluar dari rel, terguling, dan menabrak dua gerbong terakhir dari kereta Yeshwantpur-Howrah yang bergerak melintas dari arah berlawanan di jalur utama kedua.
Menurut Sinha, sistem interlocking seharusnya tidak memungkinkan Coromandel Express mengambil jalur melingkar tersebut. Meski masinis Coromandel Express yang terluka menyatakan bahwa kereta berada dalam batas kecepatan dan tidak melanggar sinyal, pernyataan tersebut masih perlu dikonfirmasi dengan sistem perekaman.
Sinha menyebutkan bahwa ada banyak kemungkinan kesalahan yang dapat menyebabkan kecelakaan ini, termasuk kemungkinan seseorang merusak kabel sistem elektronik yang berada di jalur tersebut, terjadi korsleting, atau kegagalan mesin. Meskipun kegagalan mesin memiliki kemungkinan yang sangat kecil sebesar 0,1%, kemungkinan tersebut tetap ada dalam semua jenis sistem.
Belum disebutkan pemasok atau produsen sistem tersebut, termasuk usia sistem tersebut. Namun, diketahui bahwa sistem interlocking ini digunakan di hampir seluruh jaringan kereta api India.
Pihak berwenang India mengumumkan bahwa operasi penyelamatan telah selesai pada Minggu, 4 Juni 2023. Kecelakaan ini merupakan kecelakaan kereta api paling mematikan dalam lebih dari dua dekade terakhir di India. Penyebab kematian setidaknya 275 orang diduga terkait dengan kegagalan sinyal.
Kereta Api India, yang dioperasikan oleh negara dan mengangkut lebih dari 13 juta orang setiap harinya, telah berusaha meningkatkan catatan keselamatannya karena infrastruktur yang telah menua.
Perdana Menteri India, Narendra Modi, yang menghadapi pemilihan umum tahun depan, telah mengunjungi lokasi kejadian pada Sabtu untuk berbicara dengan petugas penyelamat, memeriksa reruntuhan, dan menemui beberapa korban luka. Modi menyatakan bahwa mereka yang dinyatakan bersalah akan dihukum berat.
Investigasi awal menunjukkan bahwa Coromandel Express yang menuju Chennai dari Kolkata keluar dari jalur utama dan masuk ke jalur melingkar dengan kecepatan 128 km per jam, menabrak kereta barang yang sedang diparkir di jalur melingkar tersebut. Akibatnya, kereta Coromandel Express dan kereta Yeshwantpur-Howrah mengalami kecelakaan hebat saat keluar dari jalur.
Para masinis kedua kereta penumpang selamat meskipun terluka. Penyelidikan lebih lanjut sedang dilakukan untuk mengungkapkan penyebab pasti kecelakaan ini. (lna)

Leave a Reply