
JoSS, LUMAJANG – Aktivitas Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, didominasi gempa letusan dan guguran selama sepekan terakhir. Potensi aliran lahar hingga radius 17 kilometer. Jalur pendakian masih ditutup.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Api Semeru di Gunung Sawur Lumajang Mukdas Sofian menyebutkan terekam 15 kali gempa letusan atau erupsi dengan amplitudo 11-20 mm pada Minggu (11/6) pukul 00.00-06.00 WIB.
“Selain itu, terekam gempa guguran dengan amplitudo 3-6 mm sebanyak tujuh kali. Selain letusan dan guguran, Gunung Semeru juga mengalami satu kali gempa vulkanik, satu kali gempa tektonik jauh,” kata Mukdas dikutip dari Antara.
Untuk pengamatan visual Gunung Semeru terlihat jelas hingga tertutup kabut, asap kawah tidak teramati, kemudian cuaca cerah hingga mendung, angin lemah ke arah tenggara, serta keterangan lainnya terekam tremor harmonik menerus amplitudo maksimal 2-20 mm dari pukul 00.00-06.00 WIB.
Pada periode pengamatan pukul 06.00-12.00 WIB terekam sebanyak 14 kali gempa letusan dengan amplitudo 13-21 mm, tiga kali gempa guguran, dua kali gempa embusan, dan 20 kali harmonik dengan amplitudo 3-20 mm.
Selanjutnya, kata Mukdas, pada periode pengamatan enam jam berikutnya, yaitu pada pukul 12.00-18.00 WIB, tercatat gunung tertinggi di Pulau Jawa itu mengalami enam kali gempa letusan dengan amplitudo 16-20 mm.
Baca Juga: Aktivitas Vulkanik Tinggi, Status Gunung Merapi Tetap Siaga Level III
“Semeru juga kembali mengalami gempa guguran sebanyak tiga kali dengan amplitudo 4-7 mm dengan lama gempa sekitar 50-63 detik,” ucapnya.
Getaran Banjir di Gunung Semeru Terekam 1 Jam akibat Hujan Deras. Seismograf juga mencatat terjadi 11 kali harmonik dengan amplitudo 4-20 mm dan dua kali gempa tektonik jauh dengan amplitudo 20-21 mm.
Saat ini Gunung Semeru masih berstatus siaga atau level III, sehingga masyarakat diimbau mematuhi rekomendasi yang telah ditetapkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Masyarakat dilarang melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 km dari puncak (pusat erupsi) dan di luar jarak tersebut, masyarakat juga tidak boleh melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan, karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak.
“Masyarakat di lereng Semeru juga diimbau tidak beraktivitas dalam radius 5 km dari kawah Gunung Api Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar),” ujar Mukdas.
Masyarakat juga diimbau mewaspadai potensi awan panas guguran, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai dan lembah yang berhulu di puncak Gunung Api Semeru.
“Terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan,” ucap dia.
Sementara itu, jalur pendakian gunung ini tutup sejak akhir Desember 2021. “Smentara ini hasil analisis, kemudian pemantauan setiap hari dari pos Pengamatan Gunung Api Gunung Sawur, status Semeru masih level 3,” kata Humas Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) Sarif Hidayat, beberapa waktu lalu.
Ia melanjutkan bahwa ketika sebelumnya Gunung Semeru masih berstatus level 2, aktivitas wisata, seperti pendakian masih bisa dilakukan. “Dengan naiknya Semeru ke status level 3 ini, sebagai antisipasi supaya tidak terjadi hal yang tidak diinginkan, bagaimanapun juga keselamatan nyawa pendaki yang utama, maka pendakian Semeru masih ditutup,” ujar Sarif. Ia pun menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada bocoran mengenai kapan pendakian Semeru akan buka lagi. (lna)

Leave a Reply