
JoSS, BANYUMAS – Harga telur ayam ras di Banyumas, Jawa Tengah, saat ini telah mencapai kisaran Rp 32.000-Rp 33.000 per kilogram. Kenaikan harga telur ayam ras di pasaran sudah melampaui harga psikologis yang ditetapkan pemerintah di kisaran Rp 29.000-Rp 30.000/kg.
Kepala Disnakkan Kabupaten Banyumas, Sulistiono mengatakan pihaknya terus memantau kenaikan harga tersebut.
“Dalam beberapa waktu terakhir memang terjadi kenaikan harga telur ayam ras di pasaran. Tidak hanya di Banyumas, tetapi secara nasional,” katanya, belum lama ini.
Menurut dia, kenaikan harga telur tersebut dipicu oleh lonjakan harga pakan seperti jagung, konsentrat, dan sebagainya.
“Kemarin harga telur ayam ras sempat jatuh, tetapi sekarang BEP-nya (Break Even Point) sudah di atas Rp 21.000/kg karena harga pakannya naik sehingga harga jual telurnya ikut naik,” ujarnya.
Salah seorang pedagang telur di Pasar Manis, Purwokerto, Dewi mengatakan kenaikan harga telur ayam ras berlangsung secara bertahap sejak pekan kedua Mei.
“Awal pekan lalu harganya masih di kisaran Rp 29.000/kg, kemudian naik menjadi Rp 30.000/kg, dan sejak Senin (15/5) menjadi Rp 32.000/kg,” tuturnya.
Dia mengaku tidak tahu secara pasti penyebab kenaikan harga telur ayam ras namun berdasarkan informasi dari distributor, hal itu dipicu oleh kenaikan harga pakan.
Sementara itu, salah seorang pedagang telur di Pasar Cerme, Purwosari, Banyumas, Satinah mengatakan harga telur ayam ras telah mencapai Rp 33.000/kg.
“Harga telur ayam ras dari peternak sekarang mencapai Rp 30.000/kg, sehingga mau-tidak mau saya juga dengan harga Rp 33.000/kg,” katanya.
Harga telur ayam di kawasan Jabodetabek juga naik, kini di kisaran Rp 31.000-34.000 per kg. “Jabodetabek di kisaran Rp 31.000-34.000 per kg, di luar jawa atau wilayah timur 38.000/kg bahkan lebih dari 40.000/kg,” kata Sekretaris Jenderal oleh Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (DPP IKAPPI) Reynaldi Sarijowan dalam keterangan tertulis, dikutip Jumat (19/5/2023).
Harga telur ayam naik karena dua hal, pertama karena faktor produksi yaitu harga pakan yang tinggi. Kedua, proses distribusi yang tidak sesuai dengan kebiasaan yang biasanya didistribusikan ke pasar tetapi banyak pihak yang melakukan pendistribusian di luar pasar atau permintaan di luar pasar, sehingga pasokan dan permintaan di pasar terganggu dan menyebabkan harga terus merangkak naik.
“Dua hal ini kami berharap agar pemerintah dapat melakukan upaya dan antisipasi agar kenaikan harga telur tidak terus naik. Sebagai catatan bahwa kami melihat ada beberapa permintaan yang cukup tinggi di beberapa instansi atau beberapa elemen atau beberapa lembaga, atau perorangan sehingga supply di pasar terganggu,” tutupnya.
Tak hanya telur, daging ayam turut mengikuti tren kenaikan harga, bahkan ada yang mencapai Rp48.540 per kg di daerah Maluku. Panel harga badan pangan mencatat, harga daging ayam hari ini, Selasa (23/5/2023) naik Rp90 ke Rp36.690 per kg. Harga tersebut adalah rata-rata nasional di tingkat pedagang eceran.
Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) Abdullah Mansuri menuturkan bahwa memang beberapa komoditas saat ini sedang tinggi, khusus untuk ayam kenaikannya memang konsisten dari Rp 35.000, kemudian naik menjadi Rp36.000, Rp38.000 sampai ada yang Rp40.000 per kg.
“Nah ini yang cukup berat dihadapi oleh pedagang, karena memang kenaikannya konsisten Rp1.000. Ini yang kami harapkan agar pemerintah bisa melakukan upaya antisipasi,” kata Abdullah, dilansir dari CNBC Indonesia, Selasa (23/5/2023).
Abdullah mengatakan pihaknya selalu melakukan pengecekan pasokan serta harga untuk daging ayam, dan memang kondisinya saat ini pasokan ayam sedang menurun. “Jadi, dari seminggu terakhir ini kami melihat ada penurunan pasokan,” lanjutnya.
Abdullah mengaku para pedagang merasa kesulitan dengan adanya kenaikan harga daging ayam ini. Sebab, semakin tinggi harga maka daya jualnya punya menjadi semakin sulit.
“Modalnya semakin tinggi, jualnya juga relatif susah. Penurunan omzetnya sangat tinggi pedagang rasakan, hingga 40% penurunan omzet dari bulan lalu ke bulan sekarang. Ini yang membuat pedagang sedikit kesal,” tutur dia.
Untuk itu, dia mengatakan pihaknya saat ini tengah berkomunikasi dengan asosiasi pemotong daging ayam untuk mencari solusi bersama terkait melonjaknya harga daging ayam di pasaran saat ini.
Lebih lanjut, Abdullah tak menampik soal adanya kabar rencana mogok berjualan daging ayam oleh para pedagang pasar. Namun, dia saat ini tengah mengupayakan agar rencana tersebut tidak jadi dilakukan, dengan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat. “Usulan itu benar adanya, tapi saya masih mencegahnya,” ujarnya. (lna)

Leave a Reply