JoSS, JAKARTA – Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) telah mengungkapkan bahwa ancaman gelombang panas akan terus mengintai kehidupan hingga tahun 2028.
Menurut WMO, dua dari tiga peluang dalam lima tahun mendatang menunjukkan bahwa suhu global akan melewati ambang batas pemanasan global 1,5 derajat Celsius untuk pertama kalinya.
Tahun 2023 Diprediksi Cetak Rekor Suhu Terpanas di Asia Para ilmuwan telah memperingatkan bahwa tahun 2023 kemungkinan akan menjadi tahun terpanas di Asia. Beberapa negara di Asia seperti Vietnam dan Filipina bahkan telah mencatat rekor suhu terpanasnya.
Namun, secara global, tahun 2023 masih berada di peringkat kedua sebagai tahun dengan suhu terpanas setelah tahun 2016.
“Suhu yang terjadi jauh di atas rata-rata tercatat di sejumlah wilayah luas termasuk Afrika Utara, Rusia barat daya, dan sebagian besar Asia, di mana banyak rekor suhu tinggi baru untuk bulan Maret ditetapkan,” ungkap WMO.
“Penyimpangan suhu di atas rata-rata juga terjadi di sebagian besar wilayah Timur Laut Amerika Utara, Argentina, dan negara-negara tetangganya, serta sebagian besar Australia dan pesisir Antartika.”
Beberapa negara di Asia dalam beberapa waktu terakhir telah dilanda gelombang panas yang menghantam negara-negara seperti India, Bangladesh, Laos, dan Thailand.
Studi menunjukkan bahwa gelombang panas yang terjadi sekarang ini 30 kali lebih mungkin disebabkan oleh perubahan iklim.
Beberapa daerah di India bahkan mencatat suhu mencapai 44 derajat Celsius pada pertengahan April. Gelombang panas tersebut telah menyebabkan setidaknya 11 kematian di sekitar wilayah Mumbai.
Selain itu, Bangladesh juga baru-baru ini mencatat rekor suhu terpanas dalam 60 tahun terakhir di wilayah Dhaka.
satu bukti gelombang panas hantam Asia Tenggara terjadi di Kota Tak. Wilayah di Thailand itu mencatat rekor suhu terpanas dengan suhu mencapai 45,4 derajat Celsius, diikuti oleh provinsi Sianyabuli di Laos dengan suhu mencapai 42,9 derajat Celsius.
Terjadi dua kasus kematian yang dilaporkan di Thailand terkait dengan gelombang panas yang ekstrem. Jumlah korban sebenarnya diperkirakan lebih tinggi karena dampaknya menyebabkan peningkatan jumlah orang yang memerlukan perawatan medis. Kelompok masyarakat yang paling rentan terhadap dampak ini adalah mereka yang hidup dalam kondisi ekonomi yang rendah.
Para ilmuwan iklim internasional telah melakukan studi untuk melihat suhu maksimum rata-rata dan indeks panas maksimum, termasuk kelembapan.
“Dalam kedua wilayah tersebut, penelitian menunjukkan bahwa perubahan iklim membuat gelombang panas lembap setidaknya 30 kali lebih mungkin terjadi, dengan suhu setidaknya 2 derajat Celcius lebih panas daripada tanpa perubahan iklim,” kata World Weather Attributiun (WWA) dalam sebuah pernyataan dikutip dari Channel News Asia, Jumat (26/5/2023).
“Sampai keseluruhan emisi gas rumah kaca dihentikan, suhu global akan terus meningkat dan kejadian seperti ini akan semakin sering dan parah,” sambungnya.
Analisis tersebut juga menunjukkan bahwa kejadian gelombang panas yang terjadi di India dan Bangladesh akan terjadi lebih sering. Jika sebelumnya hanya terjadi sekali dalam waktu satu abad, maka kini gelombang panas dapat terjadi lima tahun sekali. Hal ini terjadi karena perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia.
Sementara jika Laos dan Thailand tidak segera mengurangi emisi dengan cepat, maka kejadian mematikan yang harusnya terjadi dua kali dalam satu abad akan terjadi setiap 20 tahun sekali. Terlebih suhu global diprediksi akan naik dua derajat Celcius dalam waktu sekitar 30 tahun.
“Kami melihat berulang kali bahwa perubahan iklim secara dramatis meningkatkan frekuensi dan intensitas gelombang panas, salah satu peristiwa cuaca paling mematikan yang pernah ada,” kata Friederike Otto dari Institut Perubahan Iklim dan Lingkungan Grantham, yang terlibat dalam penelitian tersebut. (lna)

Leave a Reply