
JoSS, SEMARANG – Puluhan mahasiswa Undip yang dikoordinatori Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang menggelar demo bertajuk ‘Senja di Widya Puraya’ Senin (6/3/2023). Aksi tersebut bentuk protes terkait penundaan tahapan pemilihan calon rektor yang tidak ada kejelasan.
Untuk diketahui, tahapan pemilihan calon rektor Undip telah diawali dengan sosialisasi pada 26 Januari 2023, selanjutnya pendaftaran Bakal Calon Rektor (BCR) dilakukan 6-13 Februari 2023 yang diperpanjang hingga 17 Februari 2023.
Selanjutnya penetapan BCR dilakukan pada 22 Februari lalu, ada 4 kandidat BCR yakni Prof. Ir. Mochamad Agung Wibowo dari Fakultas Teknik, Prof. Dr. Suharmono dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis.
Lalu dua calon selanjutnya adalah Prof. dr. Muhamad Thohar Arifin dari Fakultas Kedokteran, dan Prof. Budi Setyono dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik.
Jika sesuai jadwal, pada 7 Maret 2023, adalah tahapan pemaparan program kerja dan penetapan calon rektor. Namun agenda tersebut urung dilaksanakan, dan ditunda tanpa kejelasan batas waktunya.
Dilansir dari koran.tempo.co Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, riset dan Teknologi meminta majelis Wali Amanat (MWA) universitas Diponegoro menunda Sementara agenda pemilihan rektor Universitas Diponegoro Periode 2024-2029. Alasannya, Proses pemilihan rektor Undip yang menyalahi ketentuan statute kampus tersebut.
Sementara itu, Ketua Umum Dewan Pimpimam Pusat Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Undip 2017-2022 Akhmad Muqowam memprotes keputusan Majelis Wali Amanat (MWA) universitas Diponegoro ihwal penetapan bakal calon rektor Undip periode 2024-2029, protes itu disampaikan lewat surat kepada MWA Undip, baru-baru ini.
Dilansir dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Hayam Wuruk, Raza Siregar, Koordinator Aksi mahasiswa tersebut didasari kecurigaan terkait adanya penundaan tahapan pemilihan calon rektor yang terkesan ditutup-tutupi dan tidak ada kejelasan.
Dalam aksinya, bertajuk, “Senja di Widya Puraya”, itu, mahasiswa semat dihalang-halangi. Widya Puraya sendiri merupakan gedung atau area di mana Rektorat bekerja.
Raza Siregar, sempat kecewa dengan penghalangan itu, meski akhirnya pihaknya bisa bertemu dan menyampaikan maksud. “Kami ingin bertemu 4 Calon Rektor dan meminta menandatangani Pakta Integritas untuk kepemimpinan 2024-2029,” katanya.
Sementara dalam postingan BEM Undip, aksi tersebut didasari pada kecurigaan terutama pada agenda pemilihan calon rektor yang dilaksanakan pada 2023 memiliki rentang waktu yang jauh dengan pelantikan yakni pada 2024.
Kemudian penyampaian paparan program kerja yang rencananya akan digelar pada 7 Maret 2023 ditunda sampai waktu yang belum ditentukan.
Sebelumnya, pada Kamis (26/3/2023) lalu, Undip menggelar Sosialisasi Pemilihan Rektor Undip Periode Masa Jabatan Tahun 2024-2029 yang dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom Meeting. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Panitia Pemilihan Rektor (P2R) Universitas Diponegoro sebagai tahapan awal dari seluruh rangkaian Pemilihan Rektor 2024-2029 sebagaimana diatur dalam Peraturan Majelis Wali Amanat Nomor 1 Tahun 2022 tentang Tata Cara Pemilihan Rektor dan Pemberhentian Rektor Universitas Diponegoro.
Kegiatan sosialisasi yang dipimpin Prof. Ir. Edy Rianto, M.Sc., P.hD., IPU. selaku Ketua Panitia Pemilihan Rektor (P2R) membahas dua agenda, yakni Sosialisasi Peraturan Majelis Wali Amanat Universitas Diponegoro Nomor 1 Tahun 2022 tentang Tata Cara Pemilihan Rektor dan Pemberhentian Rektor Universitas Diponegoro; dan Sosialisasi Tata Tertib Pemilihan Rektor Universitas Diponegoro Periode Masa Jabatan 2024-2029.
Prof. Dr. Yos Johan Utama, S.H., M.Hum. selaku Sekretaris P2R menjelaskan proses Pemilihan Rektor Undip Periode Masa Jabatan 2024-2029 digelar lebih awal bertujuan untuk memberikan kesempatan pada Rektor yang nantinya terpilih untuk mempersiapkan program kerjanya lebih matang dan memiliki waktu yang cukup untuk belajar dan memahami ruang lingkup tugas dan tanggung-jawab Rektor Undip bersama Rektor saat ini.
“Menjadi Rektor Undip itu tidak main-main, ada kurang lebih 4.000 keluarga yang mencari nafkah disini, dan ada kurang lebih 67.000 mahasiswa yang membawa nama besar Undip untuk mencari pekerjaan. Paling tidak kedua hal tersebut cukup untuk membuat kita lebih hati-hati,” tutur Prof. Yos. (lna)

Leave a Reply