Mulai Diberlakukan, Pemerintah Alokasikan 13,15 Juta Kilo Liter Biodiesel B35

Biodiesel B35
Ilustrasi (Getty Images)

JoSS, JAKARTA – Pemerintah mulai memberlakukan program Biodiesel B35 pada Rabu (1/2/2023). B35 merupakan bahan bakar dengan persentase pencampuran bahan bakar nabati (BBN) ke dalam bahan bakar minyak (BBM) sebesar 35 persen.

“B35 akan segera masuk dalam seluruh transportasi nasional yang menggunakan bahan bakar biodiesel,” kata Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Kementerian Perekonomian Musdhalifah Machmud, dikutip dari Tempo.co.

Lebih lanjut Musdhalifah memperkirakan alokasi biodiesel ini mencapai 13,15 juta kiloliter (Kl). Dari total tersebut, Pertamina akan menyerap sebesar 9,9 juta Kl untuk didistribusikan. Perusahaan tersebut mengaku sudah menyiapkan sistem distribusi dan quality control terbaik.

Menurut Direktur Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution, Pertamina bakal melakukan simplifikasi terminal, dari 112 terminal untuk distribusi biodiesel menjadi 17 terminal. Langkah ini dilakukan untuk memudahkan pendistribusian oleh Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi).

“Bagi Pertamina, ini harus kami siapkan sebaik mungkin. Dari 17 terminal sisanya, menjadi tanggung jawab Pertamina untuk sampai ke 112 terminal yang lain,” ujar Alfian.

Pemberlakuan B35 diatur dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 295.K/EK.01/MEM.E/2022 tentang Penahapan Bahan Bakar Nabati Jenis Biodiesel sebagai Campuran Bahan Bakar Minyak Jenis Solar dalam Kerangka Pembiayaan oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit.

Kemudian juga tertuang dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 205.K/EK.05/DJE/2022 tentang Penetapan Badan Usaha Bahan Bakar Minyak dan Badan Usaha Bahan Bakar Nabati Jenis Biodiesel serta Alokasi Volume Bahan Bakar Nabati Jenis Biodiesel untuk Pencampuran Bahan Bakar Minyak Jenis Solar Periode Januari sampai Desember 2023.

Sebelumnya, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut penggunaan biodiesel B35 akan menghemat devisa negara hingga US$ 10,75 miliar. Penggunaan B35 juga disebut bakal memberi nilai tambah industri sawit sebesar Rp 16,76 triliun.

“Kebijakan B35 juga diperkirakan mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 34,9 juta ton CO2. Sebagai negara berkembang, Indonesia tentu mendorong energi hijau yang terjangkau,” kata Airlangga dalam talkshow implementasi B35 Untuk Kemandirian Energi Menuju Transisi Energi yang Merata dan Berkeadilan di Kemenko Perekonomian, belum lama ini.

Airlangga mengatakan program pencampuran ini sudah dimulai sejak 2006 yang dilanjutkan dengan persentase pencampuran biodiesel 2,5 persen. Lalu meningkat menjadi 20 persen pada 2012 dan menjadi 30 persen pada 2020.

Bahkan, kata Airlangga, B30 berkontribusi besar dalam capaian 36 persen realisasi Energi Baru Terbarukan (EBT) pada 2021. “Indonesia punya inisiatif dalam program B35 dan ini akan kita tingkatkan,” kata Airlangga.

Lebih lanjut, Airlangga juga memastikan program B35 tidak mengganggu pasokan CPO untuk minyak konsumsi. Sebab, kata dia, produsen CPO tetap menjamin suplai minyak di dalam negeri sehingga tidak terganggu. Bahkan menurutnya, per bulan akan disiapkan sekitar 450 ribu ton atau meningkat dari sebelumnya sekitar 350 ribu ton. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*