Lion Air Tegas Larang Penumpang Memainkan Lato – lato di Dalam Pesawat

Cantik main lato-lato
Ilustrasi Cupi Cupita main lato-lato (Instagram/@cupitagobas19)

JoSS, SEMARANG – Indonesia – PT Lion Air Group melarang penumpang memainkan lato – lato di dalam pesawat karena dianggap mengganggu keamanan dan kenyamanan penumpang.

“Lato – lato tidak boleh dimainkan selama penerbangan karena akan mengganggu kenyamanan dan keselamatan penumpang lain dari bunyi dan dampak gerakan yang ditimbulkan,” ungkap Corporate Communications Strategic of Lion Air Danang Mandala Prihantoro melalui keterangan resmi, Rabu (15/2/2023).

Meski demikian, lato-lato tidak termasuk dalam barang-barang dilarang (prohibited items) untuk dibawa ke penerbangan. Dengan begitu, lato-lato dapat diangkut ke dalam pesawat udara.

Danang mengatakan hal ini juga sesuai Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 211 Tahun 2020 tentang Program Keamanan Penerbangan Nasional.

Lebih lanjut, ia menyebut Lion Air Group mewajibkan setiap orang untuk mengikuti ketentuan yang berlaku dalam upaya secara bersama-sama terlibat mengutamakan aspek keselamatan, keamanan, dan kenyamanan penerbangan. Hal ini dilakukan demi agar perjalanan udara menyenangkan.

Lato-lato adalah mainan jadul yang sempat populer di Indonesia sejak era 1990-an. Kini, mainan yang mengeluarkan suara nok nok itu tengah viral.

Tak main-main, Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun menjajal mainan tersebut saat berkunjung ke Subang, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.

Mainan itu terdiri dari dua bandul yang digantung ke seutas tali. Di tengahnya ada semacam cincin yang bisa mengatur pergerakan bandul hingga saling beradu dan menimbulkan suara nyaring.

Permainan lato-lato menjadi tren dan banyak digandrungi anak-anak Indonesia. Hal ini menimbulkan beragam pertanyaan, salah satunya dari negara mana asal lato-lato?

Lato-lato merupakan gim anak-anak yang terbuat dari bahan plastik dan terdiri dua bandulan pendulum serta disambungkan dengan seutas tali atau benang nilon. Di bagian tengah tali terdapat sebuah cincin yang berfungsi sebagai pegangan untuk menggerakan dua banduan tersebut.

Cara memainkan lato-lato pun terlihat cukup mudah bagi sebagian orang, yakni dengan membenturkan dua bendulan sehingga menimbulkan suara tek-tek-tek.

Mengutip Bisnis.com, lato-lato berasal dari negara Amerika Serikat pada 1960-an. Namun, mulai populer di negara Paman Sam tersebut pada 1970.

Pada 1970-an, permainan lato-lato sempat dilarang oleh penjabat sekolah AS. Menggunakan material kaca, permainan yang harus dibanting ini rawan pecah. Pecahan kacanya pun tak bisa diprediksi. Berterbangan ke mana-mana, pecahan lato-lato pun kerap mengenai tubuh seseorang.

Selain di Amerika Serikat, lato-lato juga mirip dengan boleadoras atau bolas, senjata pilihan untuk gaucho koboi Argentina. Permainan koboi ini juga ternyata menelan korban, sehingga dilarang penggunaannya oleh pemerintah setempat.

Meski berasal dari negara Amerika Serikat, kata lato-lato merupakan sebutan permainan tradisional yang berasal dari bahasa Bugis, Sulawesi Selatan.

Viralnya lato-lato di Indonesia ini tak bisa lepas dari pengaruh media teknologi dan juga produsen permainan anak.

Hal tersebut diungkap oleh Dosen Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Ikhsan Rosyid Mujahidul Anwari.

“Masing-masing zaman atau era selalu punya zeitgeist atau yang kita sebut sebagai jiwa zaman. Kebetulan, sekarang permainan lato-lato. Siapa yang menyebabkan permainan tersebut populer, salah satunya produsen media permainan anak dan saya kira hal ini akan berulang pada waktu mendatang,” ujar dia dalam keterangan tertulisnya yang ada di situs resmi Unair. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*