
BADAN Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menegaskan pencegahan stunting tak harus dengan asupan makanan mahal seperti daging sapi. Ikan lele yang harganya jauh lebih murah pun memiliki khasiat yang baik untuk mencegah stunting.
Bukan karena pemenuhan gizi, melainkan untuk bergaya semata mengingat harga daging sapi jauh lebih mahal dibandingkan ikan.
“Mindset tentang pola makan kita masih salah. Mereka masih sering menganggap bahwa daging yang mahal, ikan yang mahal lebih baik daripada ikan yang murah. Padahal lele jauh lebih baik daripada daging,” ujar dr Hasto dalam acara Kick Off Pancasila Dalam Tindakan di kawasan Jakarta Selatan, Kamis (16/2/2023).
“Daging sapi yang harganya 120 ribu, lele harganya 18 ribu. Untuk ibu hamil dan balita lebih bagus lele. Tapi orang-orang sering menurut saya gaya. Artinya kalau punya hajatan kalau nggak daging disajikan itu tidak merasa keren,” sambungnya.
Dalam kesempatan tersebut juga dr Hasto menjelaskan, dalam setahun ada dua juta orang menikah di Indonesia, dengan 1,6 juta di antaranya hamil di tahun pertama pernikahan. Namun dari 1,6 juta kehamilan tersebut, 300 ribu anak dinyatakan stunting.
Mengingat, stunting salah satunya disebabkan oleh masalah pemenuhan gizi. Imbasnya, tubuh anak menjadi pendek, kecerdasan di bawah rata-rata, serta tinggi risiko penyakit di usia dewasa seperti diabetes hingga penyakit kardiovaskular.
Diketahui, anak yang lahir dengan stunting memiliki tubuh pendek dengan kecerdasan di bawah rata-rata. Ketika sudah berusia dewasa 45 tahun ke atas, orang dengan stunting lebih berisiko mengalami penyakit seperti kardiovaskuler berupa stroke dan jantung. Salah satu faktor pemicunya, yakni masalah pemenuhan gizi anak dan ibu hamil.
Dalam kesempatan terpisah, ahli gizi masyarakat, dr Tan Shot Yen, menjelaskan ikan lele memang merupakan sumber protein hewani yang terjangkau dan mudah dipelihara memiliki khasiat yang baik untuk mencegah stunting.
“Per 100 gram daging sapi mengandung 18,8 gram protein. Dan lele per 100 gram mengandung 16,2 gram protein,” jelasnya seperti dilansir dari detikcom, Selasa (21/2/2023).
Di samping kandungannya, dr Tan juga menyinggung ikan lele bukan sumber zat besi yang bisa diandalkan, sehingga dari sisi mikronutrien relatif kurang.
Disebutkan oleh dr Tan, pangan dengan sumber protein terbesar di antaranya secara berurutan yakni telur ayam kampung, telur ayam negeri, telur bebek, telur puyuh, ayam, bebek, sapi, hati ayam, hati sapi, dan lain-lain.
Namun ia mengingatkan pencegahan stunting tak hanya dengan mengandalkan asupan protein hewani. Di samping itu, pencegahan stunting harus dilakukan secara komprehensif. Misalnya, dengan memikirkan cara agar anak mau mengkonsumsi makanan yang disediakan.
“Anak diberi makanan sebagus apapun jika sering sakit atau cara pemberiannya tidak sesuai pola asuh (misalnya) akhirnya dilepeh karena sulit dikunyah, lagi tumbuh gigi, sariawan dan sebagainya, tentu ujung-ujungnya bermasalah juga kan?” ungkap dr Tan.
“Kerap teori dan fakta tidak berjalan bareng. Makanya selain memahami soal apa yang dimakan, orang tua juga perlu belajar cara pemberian makannya,” pungkas dr Tan. (lna)

Leave a Reply