HUT Kota Solo ke-278 Di Tengah Banjir Yang Melanda 21.846 Jiwa di 16 Kelurahan

HUT Kota Solo Banjir
Petugas BPBD Solo melakukan mitigasi bencana di sejumlah wilayah Kota Solo, Jawa Tengah, pada Kamis, 16/2/2023 (Istimewa/BPBD Solo)

JoSS, SOLO – Pada hari ini Jumat, 17 Februari 2023, Kota Solo di Jawa Tengah, berulang tahun ke-278. Peringatan HUT Kota Solo kali ini diperingati dalam suasana keprihatinan, atas banjir yang melanda 16 kelurahan di 4 kecamatan.

Banjir akibat tingginya curah hujan yang terjadi sejak Kamis (16/2/2023) itu berdampak pada 21.846 jiwa di daerah yang saat ini dipimpin Gibran Rakabuming Raka. Dari jumlah warga yang jadi korban banjir, sebanyak 3.898 jiwa di antaranya sudah mengungsi ke lokasi yang aman.

Laporan Kaji Cepat Bencana Banjir di Kota Solo itu berdasar laporan yang masuk pada Jumat pukul 07.00 WIB hingga 09.17 WIB. BPBD Kota Solo menyebut penyebab terjadinya banjir di Kota Bengawan tak lain hujan deras yang mengguyur wilayah Soloraya.

Hal itu mengakibatkan Sungai Bengawan Solo dan sejumlah anak sungainya meluap hingga menggenangi pemukiman warga sejak Kamis (16/2/2023) sore.

Kota Solo memiliki sejarah panjang yang menarik untuk disimak. Dikutip dari situs resmi Dinas Pariwisata Kota Solo, hingga 1744, Solo dikenal sebagai desa terpencil dan tenang yang berjarak sekitar 10 km dari Kartasura, pusat Kerajaan Mataram pada kala itu.

Namun, pada masa kepemimpinan Susuhan Mataram Paku Buwono (PB) II, Kerajaan Mataram didukung China melakukan perlawanan terhadap Belanda. Dari perlawanan itu, Kartasura diduduki oleh Belanda.

Kondisi ini membuat PB II mencari tempat yang lebih menguntungkan untuk membangun kembali kerajaannya.

Kemudian, pada tahun 1745, kerajaan di Kartasura dibongkar dan diangkut dalam sebuah prosesi ke Surakarta, di tepi Sungai Bengawan Solo, tepatnya Desa Sala. Cerita sejarah inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya Kota Solo yang hari ini berulang tahun ke-278.

Setelah pindah ke Desa Sala, kerajaan Mataram menghadapi perlawanan hebat dari Raden Mas Said dan Pangeran Mangkubumi. Perlawanan Mangkubumi berhenti setelah muncul kesepakatan dalam bentuk Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755.

Dalam perjanjian tersebut menghasilkan keputusan penting berupa, pembagian Kerajaan Mataram menjadi dua, yaitu Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat. Dengan adanya perjanjian tersebut, kerajaan Mataram berakhir.

Dari Desa Sala menjadi Solo, hal ini dikarenakan salah penyebutan orang-orang Eropa. Pada masa itu, orang-orang Belanda sulit untuk penyebutan nama Sala, menggunakan huruf “a”. Kemudian, berubah menjadi “o” sehingga pelafalannya berubah menjadi Solo.

Hingga saat ini Kota Solo yang berulang tahun ke-278 semakin tumbuh. Bahkan, pertumbuhan ekonomi Kota Solo pada 2022 diprediksi mencapai 5,8%-6,2%.

Selain itu, pembangunan Kota Solo saat ini sedang gencar-gencarnya. Beberapa di antaranya, Rel Layang Simpang Joglo, revitalisasi Lokananta dan Balekambang, Masjid Raya Sheikh Zayed Solo, Solo Safari, hingga renovasi Viaduk Gilingan. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*