JoSS, JAKARTA – Kasus obesitas pada anak seperti yang dialami Muhammad Kenzi Alfaro (Kenzie) memicu risiko diabetes saat memasuki usia dewasa. Untuk itu edukasi agar bayi atau anak-anak tidak mengalami obesitas sangat penting untuk pencegahan.
Hal itu diungkapkan Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono di Jakarta, Kamis (23/2/2023). Untuk itu, lanjutnya pihaknya telah melakukan pencegahan melalui edukasi agar anak – anak tidak mengalami obesitas yang memicu diabetes.
“Obesitas pada anak akan memicu terjadinya diabetes pada saat dia dewasa,” ujar Dante saat ditemui di kawasan Jakarta Pusat, Kamis (23/2).
Terdapat sejumlah hal yang bisa memicu obesitas pada anak. Mulai dari faktor genetik, berat badan lahir besar, kurang gerak, hingga asupan makanan yang tak seimbang. Menurut catatan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), status gizi anak gemuk di Indonesia mencapai 8 persen.
Belakangan ini, balita 16 bulan bernama Muhammad Kenzi Alfaro asal Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, viral di media sosial karena memiliki berat badan yang tak normal dari balita seusianya. Bobot Kenzi mencapai 27 kilogram (kg). Hal ini membuat dirinya harus mengenakan baju anak usia 10 tahun.
Ia terlahir dari pasangan M. Sopiyan (41) dan Pitriah (40) yang tercatat sebagai warga Kampung Tambun Permata, RT 002/002, Desa Pusaka Rakyat, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat pada Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi Supriadinata menjelaskan Kenzi telah ditangani tenaga kesehatan dengan menjalani rawat jalan secara intensif sejak Desember 2022.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkap jenis perawatan yang dilakukan untuk menangani Muhammad Kenzi Alfaro, balita 16 bulan obesitas berbobot 27 kilogram (kg) asal Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.
Juru Bicara Kemenkes dr Mohammad Syahril mengatakan balita tersebut perlu menjalani observasi kondisi kesehatan terlebih dahulu. Upaya tersebut dilakukan guna mencegah komplikasi lainnya.
Kenzi juga akan mengikuti program penurunan berat badan. “Jadi yang pertama diobservasi dulu, agar tidak terjadi komplikasi. Kedua, dibuat program untuk menurunkan berat badan,” ujar Syahril, Rabu (22/2).
Syahril menyebut program diet tersebut ditangani oleh tim obesitas yang terdiri dari kolaborasi dokter anak dan ahli gizi.
“Nanti dokter anak itu yang punya program dietnya. Itu sudah ada itu dietnya. Intinya, program untuk menyeimbangkan antara umur, berat badan, dan tinggi badan. Kalau dia kelebihan (berat badan), bagaimana diturunkan. Kalau stunting, ada program untuk menaikkan gizi. Ada menunya, ada caranya, aturan dietnya,” jelas dia.
Berat badan ideal untuk balita seusia Kenzi, kata Syahril, berkisar dari 10 hingga 15 kg. Syahril turut menyinggung Kartu Menuju Sehat (KMS) yang menjadi pemantau tumbuh kembang anak.
“Kayak gini kan kan terjadi obesitas, itu sebetulnya di awal kelihatan ini dengan Kartu Menuju Sehat (KMS)nya, ‘Lho tiap bulan kok naiknya luar biasa? Di atas garis yang normal,’ Nah, itu harus segera (ditangani), jangan menunggu orangnya harus sesak dulu, sampai sakit dulu,” imbuh dia.
Lebih lanjut, ia mengimbau masyarakat untuk melakukan deteksi dini sejak sebelum menikah, proses kehamilan, melahirkan, dan seiring perkembangan anak untuk mencegah pelbagai penyakit yang dapat dideteksi.
Masyarakat dapat menjalani pemeriksaan kesehatan di fasilitas kesehatan seperti posyandu dan puskesmas.
Balita 16 bulan itu sebelumnya viral di media sosial karena memiliki berat badan yang tak normal dari balita seusianya, yakni 27 kg. Oleh karena itu, Kenzi terpaksa mengenakan baju untuk anak berusia 10 tahun.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat pada Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi Supriadinata menjelaskan Kenzi lahir dari pasangan M Sopiyan (41) dan Pitriah (40) yang tercatat sebagai warga Kampung Tambun Permata, RT 002/002, Desa Pusaka Rakyat, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi.
Supriadinata menyebut Kenzi telah ditangani tenaga kesehatan dengan menjalani rawat jalan secara intensif sejak Desember 2022.
Petugas mengetahui kondisi obesitas Kenzi setelah orang tua balita itu mendatangi Posyandu Setyamulya di Desa Pusaka Rakyat pada Desember 2022 lalu.
Bidan dari desa mulai rutin melakukan kontrol ke rumah orang tua Kenzi, didampingi oleh petugas Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) pada 16 Desember 2022. (lna)

Leave a Reply