
JoSS, PURWOKERTO: Melon merupakan buah yang banyak digemari masyarakat karena citarasa manis dan segar. Permintaan konsumen yang tinggi menjadikan banyak petani tertarik menanam tanaman ini.
Tak terkecuali Gapoktan Rahayu Makmur, Temanggung. Permintaan melon premium dari dalam negeri seperti Jakarta dan Surabaya, hingga Singapura mencapai 7 ton/minggu tak mampu mereka penuhi karena beberapa kendala yaitu: keterbatasan jumlah greenhouse, teknologi, lamanya sinar matahari, serta adanya serangan penyakit melon.
Gayung bersambut, permasalahan tersebut mendapat solusi melalui kolaborasi antara Perguruan Tinggi (Universitas Jenderal Soedirman) (Flosh Hidroganik) dalam Program Matching Fund atau Kedaireka tahun 2022.
Mengusung judul ”Optimalisasi Greenhouse dengan Pemanfaatan Smart Teknologi Berbasis IoT untuk Meningkatkan Produksi Sayur dan Melon Premium”, kegiatan ini diketuai oleh Dr. Eni Sumarni, S.TP., M.Si., dan beranggotakan dosen dari Fakultas Pertanian seperti Prof. Ir. Loekas Soesanto, M.S.,Ph.D.; Okti Herliana, S.P., M.P.; Ni Wayan Anik Leana, S.P., M.P.; dan Lutfi Zulkifli, S.P., M.Si.; serta tim dosen dari Fakultas Teknik Unsoed Priswanto, S.T., M.Eng.; dan Widhiatmoko H. Purnomo, S.T., M.T.
Kegiatan ini mendapat dukungan sepenuhnya dari LPDP Kemenkeu, Kedaireka Kemendikbudristek, LPPM Unsoed, Bidang I dan Bidang IV Universitas Jenderal Soedirman dalam bentuk Funding, dana pendamping perguruan tinggi dan mekanisme pengelolaan program.
Kolaborasi ini merupakan bentuk kontribusi perguruan tinggi atas karya dosen yang diterapkan oleh masyarakat untuk meningkatkan kapasitas usaha dan kesejahteraan.
Hendi Nur Seto selaku CeO Flosh Hidroganik dan divisi pemasaran Gapoktan Rahayu Makmur menjelaskan bahwa mereka membutuhkan teknologi untuk meningkatkan produksi melon premium.
Upaya untuk memenuhi permintaan konsumen itu diwujudkan membangun 9 greenhouse baru dengan luas masing-masing 300m2 dan bisa untuk budidaya hingga 9000 tanaman melon. Dan untuk meningkatkan produksi melon diperlukan suatu system berbasis smart teknologi Internet of Thing (IoT) yang persisi untuk mengatur iklim mikro dan nutrisi yang dibutuhkan tanaman agar lebih efisien.
Otomatisasi Greenhouse dengan IoT menerapkan beberapa pengaturan menggunakan sensor otomatis untuk mengatur kepekatan larutan nutrisi, pH, kelembaban, suhu, dan intensitas cahaya.
Mengingat kondisi lokasi greenhouse berada di lereng Gunung Sindoro dengan intensitas cahaya matahari yang tidak menentu maka system IoT ini juga di integrasikan dengan pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
Dalam program MF ini, Prototype yang sebelumnya sudah dirakit oleh Ketua Tim Dr.Eni Sumarni, S.TP, M.Sc. dan Priswanto, ST., M.Eng pada program riset maupun pengabdian masyarakat pada system aeroponic tanaman kentang pada tahun-tahun sebelumnyadikembangkan menjadi sistem yang siap aplikasi untuk hidroponik tanaman melon.
Teknologi ini diterapkan pada 5 greenhouse di kawasan Kecamatan Bansari ini secara otomatis mengatur kepekatan larutan nutrisi untuk budidaya melon serta iklim di dalam greenhouse sesuai kondisi optimum pertumbuhan tanaman melon. “Penerapan teknologi ini selain bisa menghasilkan budidaya yang lebih persisi, juga hemat tenaga kerja karena kontrol otomatis bisa dilakukan melalui smartphone”, terang Priswanto, dilansir dari unsoed.ac.id.
Pemasangan 5 unit solar panel juga membantu memberikan energi ramah lingkungan untuk penerangan di dalam greenhouse. Hal ini menjadi solusi keterbatasan sinar matahari di Bansari yang berada pada ketinggian diatas 800m dpl.
“Budidaya melon sangat tergantung dengan kecukupan sinar matahari, penerapan solar panel bisa menghemat energi untuk pencahayaan buatan tanaman melon”, jelas Eni Sumarni.
Tak hanya penerapan teknologi otomatisasi greenhouse, kegiatan ini juga menyelesaikan permasalahan penyakit busuk batang tanaman melon. “Penyakit busuk batang melon menyebabkan kerugian hingga lebih dari 50%. Selama ini kami memanfaatkan pestisida sintetik dan hasilnya kurang optimal”, terang Hendi. (lna)

Leave a Reply