JoSS, JAKARTA – Juru Bicara Kementerian Kesehatan, Mohammad Syahril menyebut biopsi dilakukan terhadap ginjal pasien yang sudah meninggal. Hasilnya terbukti bahwa kerusakan pada ginjal disebabkan oleh senyawa etilen glikol.
Dia menuturkan, penelitian dan pemeriksaan penyebab penyakit gagal ginjal akut yang menyerang anak terus dilakukan. Penelitian bukan hanya dilakukan pada pasien yang masih hidup. Ginjal dari pasien anak yang sudah meninggal juga diperiksa.
“Kita juga sudah melakukan biopsi pada ginjal anak yang sudah meninggal, dan ternyata terbukti bahwa ginjalnya memang ada kerusakan, kelainan yang disebabkan oleh zat etilen glikol,” kata Syahril dalam konferensi pers secara daring, Selasa (25/10).
Berbagai upaya memang terus dilakukan untuk mengetahui penyebab pasti masalah ginjal anak ini. Melalui penelitian yang terus dilakukan itu juga telah mengeliminasi berbagai kemungkinan penyebab yang sebelumnya sempat digemborkan.
Semula, penyakit gagal ginjal akut ini diduga sebagai bagian dari long covid hingga vaksin Covid-19. Namun semuanya tidak terbukti, gagal ginjal akut ini terjadi karena keracunan senyawa berbahaya dalam obat.
“Bukan karena Covid-19, vaksin Covid-19 atau imunisasi rutin. Kementerian Kesehatan merespon cepat, melakukan penyelidikan dan penelitian untuk mencari penyebab gagal ginjal akut ini,” kata dia.
Dengan ditemukannya penyebab gagal ginjal akut itu, Kemenkes dan BPOM kemudian melarang penjualan hingga penggunaan obat sirup di Indonesia. Hal ini karena obat sirup diduga tercemar cairan etilen glikol dan dietilen glikol (DEG).
Hasilnya, setelah larangan diberlakukan Syahril menyebut tidak ada penambahan pasien gangguan ginjal akut. Terutama di RSCM yang menjadi pusat penanganan penyakit tersebut.
Per hari ini, jumlah kasus gangguan ginjal akut di Indonesia mencapai 225 orang. Dari angka tersebut sebanyak 143 anak dilaporkan meninggal dunia. Hal ini berarti tingkat kematian akibat penyakit ini mencapai 56 persen.
Untuk diketahui, penyakit gangguan ginjal akut bukanlah penyakit baru. Setiap tahun selalu saja ada orang yang dilaporkan mengalami penyakit ini.
Tetapi kasus melonjak pada Agustus tahun ini. Jika sebelumnya hanya ada satu atau dua kasus, kini melonjak hingga 25 kasus dalam satu bulan. Meningkatnya jumlah pasien ini bukan tanpa sebab, keracunan etilen glikol disebut sebagai biang kerok utamanya.
Bagaimana proses keracunan etilen glikol yang disebut ada pada obat sirup? Apakah semua anak yang mengonsumsi obat sirup bisa terkena gagal ginjal akut?
Mohammad Syahril mengatakan penyakit gagal ginjal yang menyerang anak-anak memang merupakan kasus keracunan. Mereka keracunan obat sirup yang mengandung kimia berbahaya etilen glikol.
“Kandungan etilen glikol itu seharusnya tidak ada di obat. Tapi ini jadi cemaran pelarut di dalam obat. Makanya jadi toksik ke ginjal anak,” kata Syahril.
Proses keracunan pun bisa terjadi sangat cepat. Hanya minum satu atau dua kali obat yang mengandung etilen glikol ginjal anak bisa rusak.
Meski demikian, tidak semua anak bisa mengalami masalah ginjal akibat keracunan. Hal ini berkaitan dengan pertahanan tubuh atau imunitas anak saat konsumsi obat tersebut.
“Jadi ada yang keracunan ada yang tidak. Cuma memang etilen glikol itu seharusnya tidak ada di obat,” Kata dia.
Oleh karena itu, jika ada anak yang sempat konsumsi obat sirup namun kondisinya baik, orang tua tidak perlu panik. Hal ini bisa terjadi karena anak dalam kondisi imunitas yang prima.
“Tetap dipantau saja bila ada gejala demam, diare, batuk, dan berkurangnya kencing maka ini jadi catatan dan segera dibawa ke dokter atau fasilitas kesehatan,” kata dia. (lna)

Leave a Reply