Agenda Dieng Culture Festival 2022: Ruwatan Rambut Gimbal Hingga Jazz Atas Awan

Ilustrasi, Rambut gimbal (Mister Aladin)

SETELAH dua tahun ditiadakan karena pandemi Covid-19, Dieng Culture Festival (DCF) kembali diadakan pada tahun ini, pada Jumat-Minggu (2-4 September 2022). Bertempat di Dieng kulon, kawasan Candi Pandawa dan sekitarnya.

Tak berbeda jauh dari sebelumnya, acara ini akan diisi dengan serangkaian acara Aksi Dieng Bersih, Pentas Kesenian, Jazz Atas Awan, Festival Kopi Dieng, Kirab Budaya, Jamasan Anak Rambut Gimbal, hingga Penerbangan Lampion. Pada 2 September, masyarakat bakal dihibur oleh penampilan artis lokal hingga ibu kota.

Beberapa artis yang bakal tampil di Jazz Atas Awan di Dieng Culture Festival 2022 ada Marcell Siahaan, Denny Caknan, Andien, Budi Doremi, Souljah, dan Stars Rabbit.

Dilansir dari visit.banjarnegarakab, DCF merupakan sinergi antara unsur budaya di masyarakat, potensi wisata alam Dieng, juga pemberdayaan masyarakat. Sinergi ini adalah misi dasar dibuatnya festival Budaya ini.

Festival budaya ini mulanya digagas dengan nama Pekan Budaya Dieng oleh masyarakat dan pemudi Dieng Kulon. Setelah berjalan selama tiga tahun tepatnya pada tahun 2010, Pekan Budaya ini kemudian diubah menjadi Dieng Culture Festival atas kesepakatan masyarakat dan pemuda Dieng Kulon serta membuat kelompok sadar wisata untuk hal ini.

Selain mengadakan Dieng Culture Festival yang berkaitan dengan pelestarian budaya dan pemberdayaan masyarakat, kelompok sadar wisata juga aktif dalam mengenalkan potensi wisata pada masyarakat, dari berbagai sudut pandang, termasuk dalam segi ekonomi.

Kelompok sadar wisata kemudian mengadakan Dieng Culture Festival dengan dukungan dari berbagai pihak, termasuk organisasi dan Dinas Kepariwisataan di Dieng. Ini kemudian menjadikan Dieng Culture Festival menjadi salah satu pertunjukan tradisi yang dinantikan oleh wisatawan, baik lokal maupun mancanegara.

Banyak acara yang diadakan dalam rangkaian acara di Dieng Culture Festival, namun salah satunya yang menjadi khas dan paling banyak diminati oleh wisatawan adalah tradisi ruwatan sebagai puncak acara Dieng Culture Festival dan momen jazz di atas awan.

Ruwatan adalah tradisi pemotongan rambut gimbal yang dilakukan oleh masyarakat Dieng. Ruwatan memang sudah menjadi tradisi yang melekat dengan kebudayaan Jawa, tujuannya untuk menghilangkan kesialan dan menolak bala. Ruwatan di Dieng juga memiliki tujuan yang sama.

Namun, ruwatan di Dieng dilakukan pada anak kecil berambut gimbal yang biasa disebut ruwatan bocah gimbal. Fenomena ini cukup unik, pasalnya akan ada rambut gimbal yang tumbuh pada anak-anak tertentu dengan usia antara 40 hingga enam tahun.

Rambut gimbal pada anak tersebut akan ditandai dengan suhu tubuh yang tinggi dan berlangsung selama beberapa hari. Pada pagi hari saat akan muncul rambut gimbal di kepala anak tersebut, suhu tubuhnya juga akan perlahan kembali normal. Anak berambut gimbal inilah yang akan menjadi pemeran utama dalam ruwatan bocah gimbal.

Acara ruwatan bocah gimbal dimulai dengan ritual doa di beberapa tempat tertentu, diantaranya Candi Dwarawati, Komplek Candi Arjuna, Sendang Maerokoco, Candi Gatotkaca, Telaga Balaikambang, Candi Bima, Kawang Sikidang, Gua di Telaga Warna, Kali Pepek, serta tempat pemakaman Dieng.

Ritual doa ini dilakukan dalam satu hari, pada hari kedua akan ada kirab, dalam kirab ini, anak dengan rambut gimbal akan dikawal oleh para sesepuh, tokoh masyarakat, kelompok paguyuban seni juga masyarakat. Iring-iringan kirab ini mengelilingi desa dan berakhir di tempat pemotongan rambut.

Asal-usul anak gimbal Masyarakat Dieng mempercayai bahwa anak-anak berambut gimbal ini merupakan anak titipan dari Kyai Kolo Dete. Dahulu, Kyai Kolo Dete adalah pejabat pada masa Mataram Islam atau sekitar abad ke 14 yang datang ke Dieng untuk mempersiapkan pemerintahan kerajaan Mataram di daerah ini.

Kyai Kolo Dete dengan istrinya, Nini Roro Rence kemudian mendapatkan wahyu dari Ratu Pantai Selatan. Selain itu, keduanya juga mengemban tugas untuk mengantarkan Dieng pada kesuksesan.

Uniknya, masyarakat Dieng juga percaya bahwa tolak ukur kesejahteraan ditandai dengan munculnya anak gimbal. Sejak saat itu, banyak anak gimbal yang muncul di daerah ini. Bagi masyarakat Dieng, semakin banyak anak gimbal, semakin sejahtera dan makmur pula daerah mereka.  (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*