
JoSS, JAKARTA ā Ketua RT di kompleks rumah dinas Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo, Mayjen Pol (Purn) Seno Sukarto mengungkap alat CCTV di pos satpam diganti usai insiden polisi tembak polisi yang menewaskan Brigadir Nopriansyah Yoshua Hutabarat atau Brigadir J.
Seno menjelaskan yang diganti bukan CCTV di rumah Pak Sambo tetapi CCTV alatnya yang di pos satpam kompleks tersebut. Seno mengaku tak tahu detail bagaimana decoder CCTV tersebut diganti usai penembakan di rumah Irjen Ferdy Sambo. Dia mengaku hanya mendapat laporan tersebut dari satpam.
Satpam melapor kepadanya decoder diganti pada sehari setelah penembakan. Penembakan itu terjadi pada Jumat (8/7/2022) dan decoder itu diganti pada Sabtu (9/7/2022). Sementara Seno baru mengetahui decoder itu diganti pada Senin (11/7/2022).
Seno juga mengungkapkan kekesalannya karena tak mendapat laporan apapun terkait kejadian itu.Dia mengaku tersinggung karena hingga kemarin tak ada yang menemuinya untuk menjelaskan soal kasus tersebut kecuali satpam kompleks.
“Sampai sekarang saya ketemu saja nggak. Terus terang saya juga ya kesal, saya ini dianggap apa sih. Maaf saja, saya ini jenderal loh, meskipun RT. Jadi saya memang tersinggung juga dalam hal ini,” ujarnya.
Dia juga merasa tersinggung karena merasa ada pihak yang dengan seenaknya menyuruh petugas satpam di kompleksnya. “Sama sekali nggak ada laporan, nggak ada ini, merintahkan satpam seenaknya saja. Kenapa tidak memberi tahu saya sebagai ketua RT,” sambung dia.
Seno menyebut biasanya selaku ketua RT dia selalu mendapat laporan setiap kali ada kejadian di lingkungannya. Namun hingga polisi melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di rumah Irjen Ferdy Sambo, tidak ada yang melapor kepadanya.
“Biasanya kalau ada kejadian itu satpam mestinya laporan, nelepon gitu. Karena nggak laporan, jadi saya anggap nggak ada apa-apa. Setelah hari ini kita tanya, baru ada laporan,” jelasnya.
Terkait hal itu, Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Budhi Herdi Susianto mengatakan CCTV di pos satpam kompleks rumah Irjen Ferdy diambil dalam rangka penyitaan. Sementara agar CCTV tetap bisa beroperasi, maka decoder diganti dengan yang baru.
“Dan agar CCTV di lingkungan Kompleks Aspol Duren Tiga tersebut tetap beroperasi, maka diganti yang baru,” katanya, dilansir dari detiknews.
Sementara itu, Pihak keluarga Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat atau Brigadir J masih mengungkapkan sejumlah kejanggalan seputar tewasnya anggota polisi tersebut dalam baku tembak di rumah dinas Kadiv Propam Polri, Irjen Ferdy Sambo.
Salah satu yang masih dipertanyakan adalah raibnya telepon seluler/ handphone (HP) Yoshua setelah kejadian maut tersebut.
“Kita tanya CCTV dibilang CCTV nggak ada. Tak mungkinlah CCTV tak ada di rumah seorang jenderal kan, kata kita waktu itu. Lalu kita tanyakan mana handphone anak kita, disebut hilang. Tidak ditemukan,” kata bibi dari Brigadir Yoshua, Rohani Simajuntak seperti dilansir detikSumut, Rabu (13/7).
Pihak keluarga yakin, terdapat banyak percakapan yang bisa digunakan untuk mengusut kasus itu. Namun menurut Rohani, polisi yang diutus untuk mengantar jenazah Yoshua mengatakan bahwa HP milik Yoshua hilang setelah kejadian di dalam rumah dinas sang jenderal tersebut.
“Harusnya di situ juga bisa dilihatkan bukti-bukti dari percakapannya,” sebut Rohani.
Hingga saat ini pihak keluarga belum percaya dengan kronologi yang diungkap polisi bahwa Yoshua melakukan pelecehan terhadap istri Kadiv Propam, Putri Sambo. Apa lagi Yoshua sudah sangat kenal baik dengan keluarga tersebut karena selama ini dia bertugas sebagai sopir untuk istri Kadiv Propam.
Brigadir Yoshua diketahui tewas ditembak rekannya sesama polisi, Bharada E di rumah Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo. Pihak kepolisian kini tengah mengusut kasus ini.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo bahkan membentuk tim khusus untuk mengusut kasus ini. Dia meminta tim itu mengusut tuntas kasus ini dengan transparan dan objektif. Komnas HAM dan Kompolnas juga dilibatkan dalam pengusutan kasus ini. (lna)

Leave a Reply