Awas! Jangan Kepantai Gunung Kidul Dulu, Lagi Musim Ubur-ubur

Awas! Jangan Kepantai Gunung Kidul Dulu, Lagi Musim Ubur-ubur
Ilustrasi ubur-ubur (Foto: Lynne Wirral)

SETIAP bulan Juli, terjadi fenomena alam dimana ubur-ubur mulai muncul di wilayah pantai Gunung Kidul. Kemungkinan jumlahnya akan terus bertambah seiring dengan mendekati puncak musim dingin. Tim SAR memprediksi ubur-ubur akan meningkat hingga Agustus mendatang.

Sekilas ubur-ubur terlihat mirip agar-agar yang tidak berbahaya. Padahal, sengatan ubur-ubur bisa terasa menyakitkan dan menimbulkan reaksi yang mengganggu. Saat menyengat, ubur-ubur akan melepaskan racun yang kuat ke dalam kulit.

Pada kasus tertentu, sengatan hewan laut ini bahkan bisa menyebabkan reaksi alergi serius yang mengancam nyawa.

Bahayanya, keberadaan ubur-ubur sering kali tidak disadari sehingga banyak yang terkena sengatannya saat berenang di laut.

Baca juga: Harga Tiket Masuk Pule Payung, Spot Foto Favorit di Wisata Kalibiru Kulon Progo

Untuk diketahui, ubur-ubur memiliki tentakel yang berfungsi untuk menangkap mangsa sekaligus sebagai alat pertahanan diri dari serangan hewan lain di laut. Nah, di sepanjang tentakel ubur-ubur ini, tersebar sel kulit nematosit yang mengandung racun.

Sekali ubur-ubur merasa terancam, tentakel ini akan bergerak menyerang, menyengat, dan memindahkan racun-racun ke tubuh organisme lain. Bahkan, ubur-ubur yang telah mati pun bisa menyengat saat Anda menyentuhnya.

Orang yang terkena sengatan ubur-ubur umumnya mengalami beberapa gejala seperti kulit yang terasa gatal, perih seperti terbakar, berdenyut, hingga kulit melepuh.

Sejumlah wisatawan yang tengah berlibur di pantai Gunung Kidul terpaksa harus mendapat perawatan dari Tim SAR usai mereka menyentuh ubur-ubur. Tim SAR Linmas Wilayah II Pantai Baron bersama dengan petugas Polsek Tanjungsari serta masyarakat terus membersihkan ubur-ubur yang mendarat di tepi pantai. Mereka melakukan penyisiran ke sejumlah pantai.

Sekretaris SAR Linmas Wilayah II Pantai Baron, Surisdiyanto mengatakan, Tim SAR berusaha melakukan penyisiran untuk membersihkan ubur-ubur yang berada di tepi pantai maupun yang mengambang di air. Ubur-ubur tersebut lantas mereka ambil dan kumpulkan di satu tempat kemudian dilakukan penguburan.

“Meski tidak mematikan tetapi cukup mengganggu wisatawan” ujar Suris, Minggu malam (10/7/2022). Suris menambahkan, pemantauan akan mereka lakukan secara berkala. Sebab pada bulan Juli ini gelombang tinggi dan angin kencang akan menerpa pantai selatan.

Seperti biasanya, di musim seperti ini populasi ubur-ubur yang berada di tepi pantai meningkat. Terbukti dalam dua pekan ini ada 14 wisatawan yang telah ditangani petugas. Dari belasan korban tersebut didominiasi anak-anak. Mereka harus mendapatkan perawatan dari petugas di posko SAR.

“Kami himbau agar pengunjung yang bermain air di pantai selalu berhati-hati,” tandas dia. Koordinator SAR Linmas Wilayah II Pantai Baron, Marjono menambahkan, Tim SAR Wilayah II Pantai Baron terus mengupayakan untuk mengobati korban yang tersengat ubur-ubur.

Salah satunya dengan menggunakan air cuka. Pasalnya air cuka dan alkohol bisa menetralisasi racun dari sengatan ubur-ubur. “Reaksinya sengatan ubur-ubur ini cukup cepat tapi juga tergantung dengan daya tahan tubuh masing-masing korban,” kata Marjono.

Marjono menambahkan, biasanya ubur-ubur ini akan bertambah jumlahnya dan biasanya mendarat pada bulan Juli dan juga Agustus yaitu saat terjadi puncak musim dingin. Keberadaan ubur-ubur yang sedang mendarat di Pantai Selatan menyebabkan sejumlah wisatawan tersengat.

Salah satu wisatawan korban sengatan ubur-ubur, Danu Kurniawan mengaku sedikit nyeri di kakinya. Tanpa sengaja dia tersengat saat sedang bermain air di tepi pantai. “tapi sengatannya sedikit berkurang setelah diobati,” pungkasnya. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*