Antisipasi Wabah Hepatitis Misterius, Ini Gejala Yang Harus Diwaspadai  

Antisipasi Wabah Hepatitis Misterius
ilustrasi Diagnosis Hepatitis Misterius (Foto: Desygner)

KEMENTERIAN Kesehatan (Kemenkes) mengungkap ada tiga anak meninggal akibat penyakit hepatitis misterius, Kemenkes pun mengeluarkan Surat Edaran (SE) Nomor HK.02.02/C/2515/2022 tentang Kewaspadaan terhadap Penemuan Kasus Hepatitis Akut yang Tidak Diketahui Etiologinya (Acute Hepatitis of Unknown Aetiology).

Melansir laman Sekretariat Presiden RI, Rabu (4/5/2022) surat edaran tersebut ditujukan untuk dinas kesehatan provinsi dan kabupaten/kota, kantor kesehatan pelabuhan (KKP), laboratorium kesehatan masyarakat, dan rumah sakit.

Kemenkes meminta pihak-pihak tersebut memantau dan melaporkan kasus sindrom penyakit hepatitis akut di Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR), wabah hepatitis misterius yang tengah merebak di sejumlah negara di dunia termasuk Indonesia.

Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) lantas mengimbau orang tua untuk melakukan deteksi dini. Bagaimana cara deteksi dini hepatitis misterius?

Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI Piprim Basarah Yanuarso mengatakan deteksi dini dilakukan saat menemukan gejala-gejala hepatitis misterius pada anak.

“Agar mendeteksi secara dini jika menemukan anak-anak dengan gejala-gejala seperti kuning, mual muntah, diare, nyeri perut, penurunan kesadaran kejang, lesu, demam tinggi memeriksakan diri ke fasilitas layanan kesehatan terdekat,” ujar Piprim, seperti dikutip Antara.

Sebelumnya, Badan Kesehatan Dunia (WHO) resmi mengumumkan hepatitis akut misterius ini sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Ini menyusul setelah ada lebih dari 170 kasus yang dilaporkan di 12 negara.

Hepatitis akut hingga kini masih belum diketahui penyebabnya. Pasien dilaporkan mengalami gejala antara lain, urin jadi berwarna gelap, feses berwarna pucat, kulit menguning dan gatal.

Di samping itu ada pula yang mengalami gejala nyeri sendi atau pegal disertai demam tinggi, mual, muntah, atau nyeri perut. Pasien pun kehilangan nafsu makan, lesu, diare disertai kejang.

Selama ini, adapun virus penyebab hepatitis yakni virus hepatitis A, B, C, D, dan E. Namun tak ada satupun pasien yang terinfeksi satu dari kelima virus. Justru pada beberapa pasien ditemukan terinfeksi SARS-CoV-2 dan atau Adenovirus.

Kasus hepatitis yang berawal di Jepang ini pun masuk Indonesia. Dilaporkan ada tiga anak meninggal akibat hepatitis akut.

PB IDI dan IDAI mengimbau seluruh tenaga kesehatan untuk waspada.

“Kami meminta agar seluruh Organisasi Profesi Medis di bawah IDI, seluruh dokter dan tenaga kesehatan yang bertugas di berbagai jenis fasilitas kesehatan tingkat pertama yakni puskesmas, posyandu, klinik praktek mandiri, serta dokter praktik perorangan juga mewaspadai setiap gejala Hepatitis pada anak dan dewasa,” ujar Ketua Umum PB IDI, dr Moh. Adib Khumaidi, SpOT sebagaimana dikutip dari keterangan PB IDI dan IDAI pada Rabu (4/5/2022).

Sementara itu, IDAI mendorong masyarakat untuk tetap tenang dan hati-hati. Guna mencegah infeksi, sangat disarankan untuk rajin mencuci tangan, minum air bersih dan matang, makan makanan yang bersih dan matang, membuang tinja atau popok sekali pakai pada tempatnya.

Di samping itu, disarankan untuk menggunakan alat makan sendiri-sendiri apalagi jika terdapat temuan salah satu gejala. Namun protokol kesehatan Covid-19 tidak boleh sampai kendor termasuk mengenakan masker dan menjaga jarak.

Sementara itu, Juru Bicara Kemenkes Siti Nadia Tarmizi menyampaikan pihaknya telah meningkatkan kewaspadaan dalam dua pekan terakhir setelah Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan kejadian luar biasa (KLB) pada kasus hepatitis akut yang menyerang anak-anak di Eropa, Amerika, dan Asia, serta belum diketahui penyebabnya sejak 15 April 2022.

“Kami lakukan penguatan surveilans melalui lintas program dan lintas sektor, agar dapat segera dilakukan tindakan apabila ditemukan kasus sindrom jaundice akut maupun yang memiliki ciri-ciri seperti gejala hepatitis,” ucap Nadia, dikutip dari laman resmi Kemenkes, Rabu (4/5/2022).

Nadia meminta, jika terdapat anak-anak yang memiliki gejala kuning, sakit perut, muntah-muntah dan diare mendadak, buang air kecil berwarna teh tua, buang air besar berwarna pucat, kejang, penurunan kesadaran agar segera diperiksakan ke faskes terdekat. (lna) joss

 

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*