[widget id="text-5"]

Pura Mangkunegaran Solo Bersiap Untuk Acara Jumenengan, Bhre Cakrahutomo Calon Kuat MN X

Ilustrasi Pura Mangkunegaran

JoSS, SOLO – Pengageng Wedhana Satrio Pura Mangkunegaran, KRMT Lilik Priarso Tirtodiningrat menyatakan saat ini para abdi dalem Pura Mangkunegaran Solo sudah melakukan sejumlah persiapan untuk penyelenggaraan sebuah acara besar yakni jumenengan.

Meski belum ada kepastian kapan jumenengan atau upacara kenaikan takhta KGPAA Mangkunagoro (MN) X akan dilaksanakan, namun sejumlah persiapan dilakukan yakni mempercepat penyelesaian renovasi Pura Mangkunegaran.

Selain itu juga menyiapkan sajian beksan untuk jumenengan. Para abdi dalem juga sudah mulai melakukan latihan tari tiap Rabu.

Dilansir dari solopos.com, Lilik mengaku belum tahu kapan jumenengan itu akan digelar.

Kendati demikian, para abdi dalem sudah melakukan sejumlah persiapan. Jika diminta kapan pun jumenengan, mereka siap menjadi tim panitia. Seperti diketahui ada sejumlah ritual wajib yang harus dilakukan saat upacara jumenengan pemimpin Mangkunegaran.

Salah satunya tarian khusus yakni Bedhaya Anglir Mendung. Ini merupakan tarian sakral yang tak bisa dipentaskan sembarang orang. Para abdi dalem mulai memilih siapa penari yang cocok untuk jumenengan nanti.

“Kalau kepanitiaan mesti nunggu penetapan. Nunggu beliau-beliau kasih kabar. Kalau persiapan tetap harus jalan. Ini [persiapan] diketahui oleh Prameswari,” terang Lilik.

Lebih lanjut, Lilik mengatakan memang tak ada batas maksimal kapan jumenengan harus digelar. Namun, ia menekankan harus ada pengukuhan sebelum April 2022. Hal itu berkaitan dengan persyaratan administratif hibah pemerintah untuk Pura Mangkunegaran Solo.

Baca juga: Suksesi Mangkunegaran Solo Memanas, Paundrakarna: Hargailah dan Orangkanlah Saya!

Pada tahun anggaran baru ini proposal hibah harus sudah ditandatangani oleh pimpinan baru. “Saya mendorong agar segera dikukuhkan,” kata Lilik.

“Saya kira di zaman sekarang Pura Mangkunegaran memang harus ada regenerasi dari anak muda. Sebelumnya MN IX memang selalu mempersiapkan betul regenerasi anak-anaknya, enggak hanya Gusti Bhre,” tambahnya saat ditanya harapan pada pimpinan baru nanti.

Sementara itu, di kalangan internal keraton, pembahasan terkait pemimpin baru Mangkunegaran Solo disebut sudah mengerucut kepada GPH Bhre Cakrahutomo sebagai calon KGPAA Mangkunagoro X.

“Sudah mengerucut ke Gusti Bhre. Saya tidak berani mengatakan setuju atau tidak. Bagi saya itu [mengiyakan atau tidak] tidak boleh kalau belum pasti. Karena lembaga kami ini, institusi ini, bekerja sesuai sistem adat. Kami memberi tahu kepada beliau-beliau ini loh adatnya seperti ini,” jelasnya.

Bhre Cakrahutomo yang berusia 24 tahun merupakan putra kandung KGPAA Mangkunagoro IX dengan permaisurinya, GKP Prisca Marina Yogi Supardi. Selanjutnya tinggal menunggu musyawarah dengan melibatkan keluarga inti yakni sedherek dalem serta putra MN IX untuk memutuskan nama tersebut.

Lilik mengatakan dalam menentukan penerus atau pemimpin baru Pura Mangkunegaran Solo masih memegang paugeran adat istiadat Kerajaan Mataram. Berdasarkan adat tersebut, ada beberapa syarat bagi seseorang untuk menjadi penerus pemimpin.

Pertama, penerus harus lah keturunan MN IX. Keturunan yang dimaksud harus lah laki-laki. Urutannya paling atas yakni laki-laki putra Prameswari atau Permaisuri. Selanjutnya, kalau Permaisuri tak memiliki putra laki-laki, baru lah putra garwa ampil atau selir.

“Putra setelah jumeneng. Kalau sekarang kan enggak ada [garwa ampil]. Kalau zaman dulu pasti ada garwa ampil, itu nanti anak laki-lakinya tertua juga,” terangnya.

Hal itu kemudian diperkuat dengan Serat Paliatma karya KGPAA Mangkunagoro IV. Dalam serat tersebut berisi wasiat tentang penerusnya sebagai pemimpin baru di Pura Mangkunegaran Solo.

Lilik menyebutkan isinya, yakni “Wahai anak-anakku, sewaktu aku masih jadi prajurit jangan punya mimpi jadi penerus MN V. Karena penerus Mangkunagara nanti adalah anak saya yang saat saya sudah Jumeneng.

“Tradisi ini harus kita luruskan kembali,” kata Lilik. Pura Mangkunegaran memang tak selalu dipimpin oleh anak mbarep atau putra pertama. Tahta Mangkunegara II dan III diteruskan oleh para cucu, sementara Mangkunagoro IV yakni KPH Gandakusuma adalah menantu sekaligus adik sepupu Mangkunagoro III.

Namun, Lilik menilai penentuan pemimpin baru Mangkunegaran Solo yang seperti itu adalah kasuistik. Sementara sekarang ini semua harus kembali pada adat istiadat yang ada. “Di Mangkunegaran pernah ada cucu diangkat, tapi itu kasuistik. Yang diangkat cucu karena bapaknya meninggal. Kenapa keempat [MN IV] menantu? Karena MN III tidak memiliki putra laki-laki.”

“Jangan melihat ke situ. Kami dari institusi Mangkunegaran yang mengerti soal adat, harus memberi tahu, itu tugas kami. Makanya saya berani bilang, ini sudah mengerucut, karena situasinya seperti itu. Berdasarkan filosofi sejarahnya,” terangnya lagi.

Langkah selanjutnya, kata Lilik, adalah menunggu dhawuh dari Permaisuri. Kalau berdasarkan adat di Pura Mangkunegaran, keputusan ada di tangan Permaisuri. Namun harus didahului dengan musyawarah dan mufakat dari sedherek dalem yang merupakan keluarga inti, serta para putra MN IX.

Jika sudah terpilih nanti, pengukuhan saat jumenengan juga dilakukan oleh Permaisuri. “Dulu sebelum 100 hari [100 hari meninggalnya MN IX], memang saya enggak jawab pas ditanya [soal suksesi]. Ini sudah 100 hari, makanya saya jawab. Saya merasa harus mengatakan ini. Ini sudah mau mengerucut lagi, jangan dienggokke. Ada pakemnya,” imbuhnya. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


[widget id="text-3"]