
AREA bekas tambang di beberapa daerah biasanya dibiarkan terbengkelai begitu saja, menjadi kubangan yang membahayakan, hingga meninggalkan kesan kumuh atau bahkan seram.
Namun hal ini tak ditemukan pada area bekas tambang di Tebing Breksi di Desa Sambirejo, Kabupaten Sleman. Bekas tambang yang satu ini begitu cantik dengan sentuhan seni pahat.
Sekadar informasi, Tebing Breksi dulunya adalah tempat penambangan batu alam untuk material bangunan. Pada 2014, Pemerintah Kabupaten Sleman berinisiatif untuk menutupnya demi kelestarian lingkungan.
Barulah setelah itu, tepatnya pada 2015, Tebing Breksi dikembangkan menjadi objek wisata. Ini untuk membantu perekonomian masyarakat yang dulunya bergantung pada tambang.
Hal menarik dari Tebing Breksi adalah ukiran pada dindingnya. Terdapat berbagai jenis ukiran yang dipahat, mulai dari wayang hingga naga. Inilah yang kemudian menjadi magnet bagi wisatawan Yogyakarta dan luar daerah untuk datang ke sana.
Baca juga: Wisatawan Mulai Penuhi Destinasi Wisata Alam Pedesaan di DIY
Selain melihat ukiran pada tebing, kegiatan favorit wisatawan di Tebing Breksi adalah melihat matahari terbenam alias sunset. Sunset dari Tebing Breksi ini sering disebut sebagai sunset terbaik di Yogyakarta. Kamu dapat menikmati pemandangan Kota Yogyakarta secara leluasa dari atas sana.
Di masa pandemi COVID-19 ini, Tebing Breksi juga sangat mengedepankan protokol kesehatan. Salah satu pengelola Tebing Breksi, Dwi mengatakan saat ini sudah dipasang 70 wastafel di area seluas 6,5 hektar tersebut.
“Ini kan wisata outdoor, di tanah ini banyak angin, berdebu. Mau tidak mau kami menyiapkan untuk CHSE dengan memasang banyak wastafel agar orang rajin cuci tangan,” kata dia, seperti dilansir dari detiktravel.
Selain itu, untuk masuk ke Tebing Breksi, setiap wisatawan juga wajib menggunakan aplikasi PeduliLindungi. Tiket masuk per orang adalah Rp 10.000. Lalu parkir bervariasi, mulai Rp 2.000 untuk motor dan Rp 5.000 untuk mobil. (lna)

Leave a Reply